26. ESAI: Temanmu adalah Cerminan Dirimu (Rahma.Id, 10 Juni 2023)

 


Banyak orang di sekitar selalu mengeluh tentang keadaan dirinya, seperti aku beginilah, aku begitulah, aku kurang inilah, aku tak suka itulah, dan lain sebagainya. Hal itu banyak dikeluhkan oleh seseorang terutama oleh berbagai teman yang merantau ke kota asing. Banyak hal yang dipermasalahkan, seperti mengeluh karena tugas dan pengajar yang kejam, karena menjawab soal ujian dengan pikiran yang berantakan, karena teman yang tak sepemikiran, karena dompet yang mulai kering kerontang, karena pekerjaan yang mulai menumpuk, dan masih banyak karena lainnya. Padahal keadaannya sudah biasa-biasa saja dan terbilang cukup, tapi respon orang itulah yang terlalu berlebihan terhadap sesuatu hal yang menyebabkan segalanya menjadi bom waktu bagi dirinya sendiri yang secara tiba-tiba bisa meledak kapan saja hingga rasa putus asa lah yang menghantui pikirannya.

Pesan Anonymous yang selalu penulis ingat untuk membentengi diri adalah “Orang yang banyak mengeluh biasanya adalah orang yang paling sering dikeluhkan oleh orang-orang di sekitarnya.” Tentunya tipe seseorang seperti ini sangat berbahaya bagi orang lain, karena dapat menularkan penyakit. “Hahhh penyakit? Gawat dong berarti?” Iya, hal tersebut dapat menularkan penyakit yang harus segera ditangani. Penyakit ini bukan penyakit serius seperti yang lainnya, akan tetapi penyakit ini menularkan dampak serius pada orang lain, seperti ketika ada teman yang mengeluhkan suatu hal yang pada dasarnya sepele, mudah dilakukan kemudian dibesar-besarkan sehingga sesuatu yang mudah tersebut terasa berat.

Bagi orang yang mendengar keluhah-keluhan tipe orang yang seperti ini tentunya akan terprovokasi secara tidak langsung, seperti yang awalnya dia semangat untuk mengerjakan tugas yang diberikan kemudian kadar semangat yang dia miliki kini turun, percaya diri mulai luntur, dan berpikir “Oh benar juga ya apa yang dikatakan dia?” Kini wajah yang ambis mulai tertunduk lesu, semangat memudar, rasa malas berdatangan dan rasa putus asa menyambar.

Jika rasa putus asa mulai berdatangan, dan menganggap bahwa dunia ini tidak adil, serta selalu mengeluhkan sesuatu hal. Lalu pertanyaannya, “Pernahkah kita mendengar seseorang yang mencarikan kita uang untuk biaya bertahan hidup di perantauan mengeluh? Siapakah dirinya?” Ya, mereka adalah orang tua, kakak, tante, paman, kakek, nenek, dan lainnya, yang berjuang keras untuk melihat kita berada di atas langit untuk menggapai bintang dan dapat membanggakan mereka pada suatu hari nanti.

Namun kita yang dibanggakan, menjadikan diri sendiri sebagai beban yang sebenarnya tidak cukup layak dibanggakan. Ketika dipertanyakan kembali, lantas apa yang sudah kita berikan kepada mereka yang sudah berjuang untuk kita? Tidak ada. Jadi, masih pantaskah kita berkeluh kesah, putus asa dan menyerah dengan gampangnya. Merekalah yang seharusnya menjadi motivasi bagi diri kita sendiri, melecut diri agar berlari, bukan diam di tempat, tetap tenang berada di zona nyaman dan tetap di titik nol. Berusaha memberikan afirmasi positif pada diri sendiri, bukan malah terprovokasi tentang hal negatif yang berasal dari lisan orang lain.

Tipe seorang yang seperti ini bukanlah teman yang harus kita hindari ataupun dijauhi. Tapi justru seharusnya kita memberikan serangan balik pada dirinya dan menyiapkan tameng bagi diri kita sendiri. Serangan tersebut bukanlah serangan berupa provokasi-provokasi negatif akan tetapi sudah menjadi tugas kita sebagai seorang teman adalah dengan menyuntikkan kata-kata positif dan optimis pada orang tersebut, sehingga pada nantinya bukan kita yang terpengaruh pada hal yang negatif tapi kita lah yang membawa dampak positif bagi orang lain di sekitar kita.

Sebagai seorang teman, kita harus dapat merangkul teman dan orang-orang yang kita cintai, bukan malah meninggalkannya di saat dirinya sedang sakit. Ya, sakit karena keluhan-keluhan rasa putus asa, rendah diri, dan pikiran negatif dalam dirinya. Disaat seperti itulah kita sebagai orang yang mencintai mereka harusnya mampu menjadi obat, menjadi dokter yang dapat memahami dan merawatnya ketika sedang sakit, bukan malah semakin menjadikannya boomerang. Di dalam hidup kita selalu dihadapkan oleh berbagai macam warna. Hitam, putih, abu-abu, merah, kuning, hijau, dan lain sebagaianya. Di dalam hidup kita juga dihadapkan oleh berbagai pilihan yang sebenarnya kita memiliki hak untuk memilih. Jadi, kamu memilih mewarnai atau justru terwarnai? That’s your choice…

Jika kamu ingin tau siapa dirimu yang sebenarnya. Cobalah kamu lihat siapa teman-teman yang berada di sekitarmu saat ini. Siapa teman yang bergaul denganmu saat ini. Karena seorang teman adalah cerminan dari siapa diri kita.

Masih ingat dengan hadist, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda “Perumpamaan teman yang baik dan yang buruk adalah seperti orang yang membawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Yang membawa minyak wangi (teman baik), boleh jadi dia memberimu, atau kamu membeli daripadanya, atau paling tidak kamu mendapatkan harum semerbak daripadanya. Adapun tukang pandai besi, boleh jadi bajumu terbakar karenanya, atau kamu mendapatkan bau api darinya (HR Al-Bukhari dan Muslim).”

Dari hadist tersebut mengingatkan dan mengajarkan kita untuk lebih selektif dalam berteman dan memilih seornag sahabat. Karena jika kita berteman dengan teman yang shalih/shalihah maka akan mendatangkan kebaikan dan dan mengajak ke Surga, beberda dengan teman yang buruk maka ia akan mendatangkan keburukan dan mengajak kita menjauh dari Surga.

Oleh: Putri Ambarwati

Tenaga Pengajar SMP Ar-Rohmah Putri IIBS 2

https://rahma.id/temanmu-adalah-cerminan-dirimu/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

23. Resensi Buku "Kami (Bukan) Jongos Berdasi"

21. Antologi Buku: "Bawa Aku Kembali, Tuhan" dalam Buku The Amazing Me (Ruang Nulis, Agustus 2021)

10. Opini: Perempuan Tonggak Peradaban (Portal Madura 22 Januari 2020)