23. Resensi Buku "Kami (Bukan) Jongos Berdasi"
Sebenarnya ini tulisan lama sih, tapi baru ketahuan ternyata pernah menulis resensi tentang buku ini.
Mungkin karena terlalu lama mengendap di bagian folder paling terdalam.
Mengsedih karena tak sempat mengirimkannya ke media, padahal format dokumennya "OTW dikirim ke redaksi" whoahhh huhuhu :"(
But it's okay, aku up di blog sini aja biar tulisannya gak mubazir dan terbuang percuma dan semua orang bisa baca.
So, enjoy your reading...!
“PEKERJAAN TERBAIK ADALAH HOBI YANG DIBAYAR”
IDENTITAS
BUKU
Judul
Buku : “Kami (Bukan) Jongos Berdasi”
Penulis :
J.S. Khairen
Penerbit : PT. Bukune Kreatif Cipta
Cetakan : I, Oktober 2019
Tebal :
414 Hlm (Lima Babak dan 48 Bab)
ISBN : 978-620-220-335-3
Banyak orang yang berkata bahwa pekerjaan
terbaik adalah hobi yang dibayar yaitu mengerjakan sesuatu hal yang memang kita
cintai. Bahkan tanpa dibayar pun kita tetap ikhlas dan sukarela melakukan
pekerjaan tersebut karena cinta. Lalu bagaimana jika kita dihadapkan dengan suatu
situasi seperti melakukan pekerjaan yang sama sekali tidak kita minati namun
tetap harus kita lakukan hanya untuk mendapatkan sesuap nasi? Masalah tersebut tergambarkan
melalui perjalanan tokoh-tokoh dalam novel “Kami (Bukan) Jongos Berdasi”.
Novel ini menceritakan tentang hiruk pikuk
perjalanan 7 tokoh utama yaitu Sania, Juwisa, Randi, Gala, Arko, Catherine, dan
Ogi, dalam mengarungi samudera dunia pekerjaan. Mereka yang dibimbangkan antara
melanjutkan mimpi atau menyambung hidup. Novel ini juga tak lepas dari tema
tentang persahabatan mereka. Tiap bab novel menceritakan satu persatu
perjalanan tokoh saat terjun dalam dunia kerja yang saling berkaitan satu sama
lain. Pembuka pada novel ini disambut dengan cerita tokoh dari Sania.
Sania yang
memiliki impian dan cita-cita untuk menjadi seorang penyanyi (Diva). Pada akhirnya
harus mengubur mimpinya dalam-dalam. Setelah lulus dari kampus UDEL akhirnya ia
bekerja di perusahaan ternama yaitu Bank EEK (Emirates Equity of Khatar).
Di dalam novel ini Sania dicerminkan sebagai seorang perempuan yang selalu berambisi
dengan uang, bahkan terkadang ia melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan
hanya untuk memuaskan rasa egonya sendiri. Hingga akhirnya ia mendapatkan
hukuman dan karma dari apa yang telah dilakukannya. Hal itu pula yang membuat
dia bergonta ganti banyak pekerjaan. Hingga akhirnya dia dilema antara tetap mengubur
atau menggali kembali mimpi yang sempat ia kubur rapat-rapat disaat mulai nyaman
dengan pekerjaannya saat itu.
Berbeda dengan
Sania. Juwisa yang merupakan sahabat seperjuangan Sania yang memiliki nama
julukan si Ubin Masjid ini dikenal karena ketekunan dan kereligiusannya. Dia memiliki
karakter pekerja keras, lemah lembut, pintar, dan jujur. Juwisa bekerja keras
untuk melanjutkan studi S2-nya ke Inggris dengan bantuan beasiswa LUDP (Lembaga
Urusan Dana Pendidikan). Namun, disisi lain untuk berjaga-jaga ia juga mendaftar
CPNS sebagai cadangan apabila ia gagal mendapatkan beasiswa S2. Hal pahit yang
dialami tokoh ini yaitu disaat dia mengalami kecelakaan yang membuat salah satu
tangan dan kakinya harus diamputasi. Sejak saat itu Juwisa tidak lagi menjadi
Juwisa yang seceria si Ubin Masjid dulu lagi.
Tokoh
selanjutnya yaitu Randi yang mendapat julukan Ranjau dan Kim Jong Unch. Ia bekerja
sebagai wartawan clickbait sekaligus penulis berita di media cetak ternama,
DNN. Banyak judul berita ambigu yang sudah ia tulis hanya untuk menarik perhatian
pembaca, seperti Dicegat Guru, Siswi Ini Dibawa ke Ruangan Khusus! Berdua
Saja dan Terciduk! Dua Remaja Sedang Buka-Bukaan di Tempat Ibadah Dikeroyok
Warga. Padahal isi berita tersebut mengandung makna yang berbeda dengan judul
yang ia tulis. Banyak hal yang Randi alami dalam mejelajahi dunia kerja, seperti
saat ia rela mengorbankan uang pribadinya hanya karena ketinggalan pesawat. Ketika
ia mencapai puncak kejayaannya, ia tetap merasa ada hal yang kurang lengkap
dalam hidupnya.
Lain halnya
dengan Gala yang terbiasa hidup menjadi anak orang kaya dan tak merasa
kekurangan apapun. Ia lulusan dari kampus UDEL jurusan Arsitek. Ia memiliki
mimpi mendirikan sekolah untuk siswa-siswa yang membutuhkan, namun disisi lain
ia juga membutuhkan modal dan pengalaman untuk mewujudkan hal tersebut dengan
tidak bergantung pada harta yang dimiliki ayahnya. Selain disibukkan dengan
pekerjaannya yang sebagai arsitek, ia juga disibukkan dengan bekerja sebagai guru,
sekaligus kepala keluarga dalam`rumah tangganya. Hingga terkadang hal tersebut
yang melenakan Gala untuk mengenyampingkan mimpi-mimpinya sejenak.
Beda lagi
dengan Arko, yang ibunya dipusingkan dengan Arko yang tak kunjung lulus dan wisuda
dari bangku kuliahnya. Ia diasyikkan dengan pekerjaan dan impiannya untuk kembali
ke Eropa dan bekerja sebagai seorang fotografer. Akan tetapi Arko merasa dilema
karena tak tega juga ia meninggalkan ibunya sendirian di desa karena adik
perempuannya yang juga merantau kuliah di kampus UDIN jurusan kedokteran.
Selanjutnya Catherine, yang merupakan adik dari salah satu dosen kampus UDEL, Lira. Di dalam novel ini tokoh Catherine tidak terlalu memiliki permasalahan yang kompleks. Hanya saja ia memiliki masalah kendala biaya untuk melanjutkan studi S2-nya di Belanda karena ayahnya yang mulai bangkrut semenjak kampus UDEL dibubarkan serta ambisinya yang besar untuk menegakkan hukum di Indonesia dengan cara membela orang-orang lemah dan tak dianggap oleh hukum Indonesia.
Terakhir
Ogi, yang lama tak pulang kampung ke Indonesia dan mahasiswa DO kampus UDEL.
Yang telah menjalani banyak cerita pahit hingga mengantarkannya ke Amerika dan
menjadi orang sukses di perusahaan Alphabet Inc Amerika Silicon Valley. Ia kembali
ke Indonesia dengan kesusksesan yang cettar menggelegar hingga mampu memberikan
rumah baru kepada emmaknya. Akan tetapi Ogi pulang tidak dengan tangan kosong,
melainkan membawa ide-ide brilliant yang akan dia kembangkan bersama
sahabat-sahabatnya,
Lalu bagaimana
kelanjutan kisah Ogi dan kawan-kawannya? Bagaimana dengan Sania, apakah dia melanjutkan
mimpinya menjadi Diva atau tetap bertahan di sarang tikus? Juwisa, akankah dia
tetap terpuruk dan putus asa dengan nasibnya? Bagaimana cara Randi mencapai puncak
kejayaannya dan hal apa yang masih kurang lengkap dalam hidup Randi? Dan bagaimana
nasib tokoh-tokoh lainnya dalam novel tersebut? Semuanya akan dikupas secara
tuntas apabila pembaca mulai memburu dan membaca novelnya secara langsung.
Novel ini
memiliki daya tarik tersendiri. Gaya bahasa yang unik dari plesetan-plesetan
kata di dunia nyata serta alur cerita yang santai, lucu, namun tetap ada pesan
serius di dalamnya. Bahasanya pun mudah dipahami dan memiliki kosa kata yang jarang
digunakan di masyarakat umum sehingga dapat menambah wawasan kosa kata baru bagi
pembaca. Jalan cerita dalam novel tersebut memaparkan realita dalam mengarungi
dunia pekerjaan, baik itu kesulitan, tantangan, dan cara untuk bangkit. Cerita
tersebut sangat menginspirasi serta memotivasi pembaca untuk terus bangkit dalam
menghadapi segala cobaan pahit dan menyakitkan di dunia pekerjaan secara nyata.
Dikarenakan
novel ini merupakan buku kedua dari serial novel “Kami (Bukan) Sarjana Kertas. Maka
untuk mengetahui bagaimana kisah awal para tokoh itu bertemu dan jalan cerita
tiap tokoh itu seperti apa. Hal ini menjadi kekurangan dalam membaca novel ini
apabila tidak membaca novel serial sebelumnya. Jika pembaca belum membaca novel
serial yang pertama maka pembaca tidak akan mengetahui secara keseluruhan
mengenai keadaan tokoh sebelumnya. Akan tetapi di balik itu semua, novel ini
tetap cocok untuk dibaca, terutama bagi kalangan mahasiswa,
pengangguran, pekerja, dan calon pekerja.
“Beberapa
hal tersisih. Beberapa terpilih.
Jangan sedih,
hidup bukan hitam dan putih.
Kini kau
letih dan tertindih, besok sesuatu mungkin akan kau raih.
Satu yang
pasti, Sang Mahapasti tak pernah pilih kasih.” (KBJB: 271)
Putri Ambarwati
Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia, UMM

Komentar
Posting Komentar