10. Opini: Perempuan Tonggak Peradaban (Portal Madura 22 Januari 2020)
Perempuan Adalah Tonggak Peradaban
Siapa yang terlintas dari pandangan
kalian ketika mendengar kata “perempuan”? tentunya seseorang yang terlintas
pertama kali adalah sosok ibu atau seorang perempuan yang kita cintai. Intinya perempuan
adalah sosok yang identik dengan segala keindahannya. Lalu apa yang kalian
pikirkan tentang seorang “perempuan”? seorang ibu rumah tangga dengan segala
multitaskingnya dalam melakukan segala hal kah? seperti memasak, mencuci,
mengurus keluarga, membersihkan rumah, dan mencuci piring. Atau ada hal lain? Seperti
wanita karier mungkin.
Berapa banyak orang yang berpikir
bahwa perempuan hanya bisa melakukan pekerjaan rumah saja. Duduk manis menunggu
suami pulang bekerja dan melakukan kewajibannya sebagai istri. Tentu tak sedikit
orang yang berpikir seperti itu, terutama jika dikaitkan dengan budaya dan perspektif
masyarakat di daerah setempat yang berpendapat bahwa perempuan memang wajibnya
mengurus rumah. Di sisi lain terdapat pepatah orang jawa yang mengatakan bahwa tugas
utama perempuan adalah macak, masak, dan manak.
Masih ingat dengan acara Opera Van Java Trans7
kemarin? Waktu di bagian Najwa Shihab diajukan pertanyakan oleh Deni Cagur pada
pilihan antara menjadi jurnalis atau ibu rumah tangga? Lalu ia menjawab “Mengapa
perempuan harus memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya. Pertanyaan
seperti itu sejak awal sudah menempatkan perempuan seolah-olah tak berdaya. Setiap
perempuan itu multiperan. Saya bisa menjadi ibu, istri, tetangga, dan jurnalis.”
Hal ini secara tidak langsung
mendiskriminasi seorang perempuan bahwa ia hanya memiliki satu pilihan antara
ibu rumah tangga atau bekerja. Banyak masyarakat awam yang mengatakan bahwa perempuan
tidak perlu sekolah terlalu tinggi karena pada nantinya hanya akan menjadi ibu
rumah tangga saja. Jadi percuma punya ijazah dan tidak bekerja. Kalimat tersebut
sering terdengar di telinga para perempuan yang memutuskan untuk mengabdikan
dirinya pada suami tercinta setelah menikah. Tapi ada juga kata-kata yang tak
kalah sadis ketika perempuan memilih menikah dan berkarier seperti berpendapat
bahwa ketika perempuan sudah menikah dan tetap berkarier, maka kasian sekali suami
dan anaknya yang terlupakan dan tak terurus.
Segala hal yang menjadi pilihan perempuan
di mata masyarakat selalu salah. Terlebih lagi ketika perempuan memilih menikah
di usia yang tak lagi muda karena sibuk menuntut ilmu dan berkarier. Terkadang orang-orang
berusaha menghentikan perempuan untuk melebarkan sayapnya lebih jauh dan
terbang tinggi menggapai impiannya. Khususnya dalam menuntut ilmu. Banyak orang
yang menyarankan kepada seorang perempuan setelah lulus S1 untuk segera menikah
(dengan pria mapan/tampan) atau bahkan bekerja untuk mengumpulkan uang dan sukses.
Hal inilah yang menjadi tolak ukur kesuksesan
perempuan di mata masyarakat. Pemikiran-pemikiran seperti ini telah terdoktrin dalam
pikiran masyarakat bahwa pada dasarnya perempuan memang harus seperti itu
adanya. Padahal ukuran menikah bagi seorang perempuan bukanlah di waktu yang
cepat tapi di waktu dan dengan orang yang tepat. Hal ini bukan berarti perempuan
tidak ingin segera berkeluarga, tapi ketakutan saat dilabel menjadi perawan tua
atau perempuan akan sulit mendapatkan pasangan ketika ia bergelar lebih tinggi
dari calonnya. Perspektif demikian bukanlah tolak ukur yang tepat untuk dijadikan
sebagai alasan untuk menikah cepat.
Selain itu ukuran kesuksesan di mata
perempuan bukanlah menjadi kaya raya. Ukuran kesuksesan bagi seorang perempuan
sejati adalah bagaimana dirinya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang di
sekitarnya. Tak banyak orang yang mengerti apa yang benar-benar perempuan
inginkan. Masyarakat menganggap bahwa pilihan yang selama ini tertanam di dalam
pikiran merekalah yang terbaik untuk perempuan. Padahal, pada kenyataannya perempuan
ingin juga disetarakan dengan laki-laki, khususnya dalam hal menuntut ilmu. Sebagaimana
yang Rasulullah sampaikan “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim
laki-laki maupun muslim perempuan (HR. Ibnu Abdil Barr)”.
Dengan demikian, perempuan menuntut kesetaran yang
sama dengan laki-laki. Akan tetapi kesetaraan dalam hal ini tentunya dengan
menempatkan perempuan pada kepemilikan peran dan kewajiban di tempatnya masing-masing.
Bukan bermaksud ingin menyalahi atau melanggar batas sebagai kodrat atau fitrahnya
sebagai seorang perempuan. Para perempuan pun harus memahami hal ini, bahwa Islam
juga memang menyetarakan laki-laki dan perempuan. Namun, dalam dua tempat
berbeda yang memang dikhususkan dalam masing-masing wadah, kecuali dalam hal
menuntut ilmu. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai
laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya.
Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan
yang lebih baik (Rohana Kudus).”
Sangat
jarang sekali orang-orang mendukung perempuan untuk mengejar impiannya lebih
jauh. Orang-orang terdekatpun terkadang berusaha untuk mematahkan sayap-sayap
para perempuan untuk terbang lebih tinggi menggapai mimpi dan cita-cita. Padahal
kita tidak perlu mengkhawatirkan masalah rezeki entah itu dalam bentuk jodoh
ataupun harta. Karena pada dasarnya Allah telah mengatur segalanya dengan baik,
bahkan terkadang manusia mengambil alih dengan menjadi sok bijak dalam mengatur
segala hal yang telah menjadi ketetapannya.
Lalu bagaimana pola pikir dan kehidupan
perempuan jaman sekarang? Seorang perempuan adalah kunci peradaban sebagaimana
yang telah dipesankan oleh Bunga Hatta “Siapa yang mendidik satu laki-laki, berarti
ia telah mendidik satu manusia. Sedangkan siapa yang mendidik perempuan,
berarti ia mendidik satu generasi.” Perempuan adalah calon pendidik putra-putrinya
kelak. Jadi, tidak ada salahnya apabila ia melanjutkan sekolah dan mendapatkan
gelar tinggi, kemudian menikah. Maka ilmunya akan ia terapkan untuk mendidik
anak-anaknya. Jika menikah kemudian berkarier, maka ia bisa menerapkan ilmunya
untuk kemaslahatan ummat. Hal ini tentunya sesuatu yang luar biasa bagi jejak langkah
perempuan.
Perempuan adalah madrasah pertama untuk
anak-anaknya kelak. Tidak ada salahnya jika perempuan melebarkan sayapnya untuk
terbang jauh menggapai cita. Ilmu yang dimilikinya akan ia gunakan untuk
membentuk dan membangun generasi peradaban untuk mengubah dunia menjadi lebih
baik. “Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga, dan kunci perbaikan
keluarga adalah perbaikan kaum wanitanya. Karena wanita adalah guru dunia. Dialah
yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan
tangan kirinya (Hasan Al Banna).” Dengan hal ini dapat digambarkan betapa
penting dan mulianya sosok seorang perempuan sebagai tonggak peradaban dan pencetak
generasi emas di masa depan.
Putri Ambarwati
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang
https://portalmadura.com/perempuan-kunci-tonggak-peradaban-218986/

Komentar
Posting Komentar