21. Antologi Buku: "Bawa Aku Kembali, Tuhan" dalam Buku The Amazing Me (Ruang Nulis, Agustus 2021)
Suatu waktu di
masa lalu aku pernah berada pada masa ketika kaki dipaksa untuk tetap berdiri
tegak disaat rapuh. Ada masa disaat badai menerjang namun badan harus tetap
kokoh, siap sedia menjadi tameng. Masa di saat sayap-sayap mulai dipatahkan
karena dianggap tak pantas untuk terbang. Masa di saat hati yang dipatahkan
secara diam-diam. Masa diri ini diinjak-injak karena dianggap tak pantas
memperjuangkan.
Aku pernah berada
di masa-masa sulit itu. Masa ketika diri ini melakukan kesalahan. Parahnya lagi
selalu terjatuh dalam kesalahan yang sama berulang-ulang kali. Tak hentinya
terjatuh pada lubang yang sama. Masa itu adalah masa-masa ketika diri ini tak
layak untuk dikatakan berharga bahkan tak layak untuk dicintai kembali. Masa-masa
rapuh ketika ditinggalkan seseorang yang dicintai. Masa ketika diri ini tak
pantas untuk hidup dan berada di antara para orang baik.
Ketika di
masa-masa itu, aku mulai putus asa terhadap diriku sendiri dan kehilangan harapan.
Masa lalu yang tidak ingin diriku kembali lagi ke dalamnya. Masa yang membuatku
hancur lebur bahkan tak percaya kepada diriku sendiri. Membenci dan menganggap hina
diri ini, bahkan pada sudut pandang dan kacamata diri sendiri. Terus mengurung
diri di dalam kamar, overthinking menjadi teman setia ketika menjelang malam,
dan bisikan-bisikan negatif selalu berbunyi di gendang telinga lantaran tak rela
melihat diri ini bahagia dan tertawa lepas.
Ada air mata yang
jatuh tanpa alasan, ditemani semilir angin bahkan hujan yang terkadang hadir
seakan berusaha membantu menyembunyikan setiap buliran bening yang terjatuh tanpa
suara. Aku, seorang perempuan yang memang pada dasarnya rapuh, tidak mampu
menutupi fitrahnya bahwa ia diciptakan dengan perasaannya yang lemah. Namun aku
yang dikenal kuat harus tetap berusaha untuk tetap tegar dan berusaha baik-baik
saja bahka ketika terjangan ombak menghajar dan menghantam seluruh tubuhku.
Saat hati kalut, dan
mulai menangis lantaran ada hati yang teriris. Aku bercermin, dengan sengaja melihat
keadaan diriku sendiri yang sedang kacau-kacaunya. Raga yang terombang ambing
dan hati yang robek lantaran telah manusia cabik-cabik sesuka hatinya. Saat melihat
diri sendiri di depan cermin, aku bertanya-tanya tentang diriku sendiri yang
berbeda dengan diriku yang dulu. Redup, tak ada lagi kilauan cahaya yang
terpancar dari paras wajah dan kedua sorot mataku.
Aku bertanya-tanya
pada diriku sendiri tentang sampai kapan batas waktu bersedih dan menyalahkan
diri sendiri. Bahkan parahnya lagi tak bisa menghargai dan mencintai diri
sendiri. Mau sampai kapan berlarut-larut dalam luka masa lalu yang kenyataannya
semakin hari, langkah kaki ku membuat aku sendiri semakin menjauh darinya. Mau sampai kapan berlarut memikirkan perkataan
orang atau sibuk memikirkan orang lain yang belum tentu memikirkan diriku atau
lebih kejamnya lagi, dia sudah tak memiliki kepedulian atau empati padaku. Mau sampai
kapan berharap, merendah, mengemis perhatian untuk mendapatkan perhatian kembali.
Bahkan jika memang orang lain mencintaiku, aku bahkan tak perlu merendah atau bersujud
agar orang itu memperhatikan ataupun menoleh hanya untuk sekadar melihatku.
Aku terlalu
berharga untuk direndahkan seperti itu, karena dalam agamaku pun, Islam,
sangatlah memuliakan seorang perempuan dan menjadikannya seorang Ratu dalam singgasana
kerajaan. Sebagai seorang perempuan, Islam memuliakan aku seperti mutiara dalam
lautan terdalam. Hanya pejuang tangguhlah yang pantas mendapatkannya. Jadi rasanya
aku tak pantas jika untuk sekadar mengejar seorang yang tak mempedulikan diriku,
dan bahkan rela mengorbankan impian-impianku hanya untuk mempercepat orang lain
menggapai mimpi.
Aku seperti menghantam
karam pada diriku sendiri, menampar keras diriku sendiri agar tersadar, terbangun,
dan mulai bangkit kembali. Aku menghajar habis-habisan diriku sendiri, aku
mencaci maki diriku sendiri yang selalu bersedih, dan tak bisa mencintai diriku
sendiri serta terlalu berambisi dalam mencintai orang lain. Aku mulai
mengasihani diriku sendiri dan memeluk diriku sendiri.
Bersenandika tentang
rasa, dari dalam diri aku sendiri, menasehati diri bahwa jika bukan aku yang
mencintai diriku sendiri, maka siapa lagi yang akan memulai mencintai aku. Jika
bukan aku yang menghargai diriku sendiri maka siapa lagi yang bisa menghargainya,
jika bukan aku yang memeluk diri sendiri lantas siapa lagi yang kan memeluknya.
Aku hanya kehilangan satu orang yang aku cintai, yang bahkan dia tidak mencintaiku.
Namun Allah Maha Baik, Dia menghadirkan mereka yang mencintaiku, namun aku buta
terhadapnya. Mereka adalah keluarga, sahabat, tetangga, dan kawan.
Terakhir, aku
selalu lupa bahwa Allah selalu hadir dengan sigap memelukku bahkan disaat aku
jatuh tersungkur. Allah selalu ada mengulurkan tangan-tangannya bahkan ketika aku
terperosok dalam lubang yang sama. Allah selalu memaafkan diriku yang terkadang
aku sendiri bahkan tak bisa memaafkan diriku karena terlalu hinanya diri ini.
Namun Allah selalu ingin hambanya kembali kepadanya melalui jalan yang diridhoi dan jalan yang dicintaiNya. Allah Maha Baik, namun aku selalu buta, bisu, dan tuli ketika dihadapkan pada segala petunjukNya. Lantas kepada siapa lagi aku meminta pertolongan dan kasih sayang yang melebihi luasnya langit dan bumi, kecuali pada diriNya Yang Maha Baik. KepadaNya tangan-tangan kosong ini menengadah dan kepala ini bersimpuh menunduk serendah-rendahnya sebagai wujud permintaan bahwa aku ingin kembali. Kembali pulang pada pangkuanNya.
Bionarasi Penulis:
Penulis bernama
Putri Ambarwati. Baginya menulis tak hanya sekadar menggambarkan sebuah kata
tetapi menulis adalah ladang dakwah perantara kata. Jika lisan tak mampu
berucap, maka kata adalah perantanya. Berharap dalam setiap kata mengandung
pesan kebaikan yang menjadi ladang pahala sampai diri menuju liang lahat dan langkah
kaki menapaki surgaNya. Penulis bisa dihubungi melalui email ptr_ambar7@gmail
atau IG ptr_ambar97

Komentar
Posting Komentar