25. ESAI: Peran Orang Tua dalam Antisipasi Kekerasan Seksual pada Anak (Rahma.Id, 11 Mei 2023)
Peran Orang Tua dalam Antisipasi Kekerasan Seksual pada Anak
Membaca atau mendengar
mengenai hal-hal yang berbau kekerasan, tentu bukan lagi sesuatu yang asing di
dalam lingkungan masyarakat. Kekerasan dapat terjadi di mana saja dan kapan
saja, entah karena terdapat niat dan rencana dari pelaku atau kesempatan yang
mendukung terjadinya suatu kekerasan. Jenis-jenis kekerasan yang dikenal secara
umum oleh masyarakat yaitu berbentuk kekerasan fisik, psikologis, dan seksual.
Saat ini yang perlu
menjadi sorotan adalah kekerasan terhadap anak-anak menjadi berita utama dan
justru melonjak setiap tahunnya. Menurut Deputi
Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA saat diwawancarai media Republika
memaparkan bahwa pada 2019 total jumlah kasus kekerasan terhadap anak tercatat
11.057 kasus. Pada 2020 kasus meningkat 221 kasus sehingga total menjadi
11.278. Kenaikan signifikan terjadi pada 2021, yakni mencapai 14.517 kasus.
Kenaikan signifikan berikutnya terjadi pada 2022 yang mencapai 16.106 kasus.
Dari sekian banyak data
kasus yang masuk, kasus terbanyak didominasi oleh kasus kekerasan seksual yang
terjadi pada anak sekitar 9.588 kasus. Kekerasan seksual merupakan salah satu
bentuk kekerasan yang mengharuskan anak terlibat dalam kegiatan yang berbau
seksual, seperti halnya pelecehan seksual. Herannya, kasus kekerasan seksual
yang marak terjadi yaitu di lingkungan rumah atau keluarga si anak dan juga di
lingkungan anak-anak menuntut ilmu baik formal maupun non-formal. Tentu kita
sering mendengar berita tentang orang tua atau salah satu anggota keluarga yang
berani melecehkan anaknya atau anggota keluarganya sendiri.
Beberapa kasus berita
yang viral akhir-akhir ini adalah kasus berita seorang ayah yang menghamili anaknya sendiri dan membuang bayi yang
dilahirkan anaknya karena terlahir cacat di pinggir jalan di Jalan Raya
Pontang-Tirtayasa, Kabupaten Serang. Kemudian beberapa hari ini kita
juga dikejutkan kembali oleh berita tentang kasus pelecehan seksual yang
sengaja dilakukan oleh oknum yang disebut ustadz di wilayah beberapa pondok
pesantren, Indonesia.
Dari berbagai data
tersebut tentu menjadi suatu peringatan dan harus lebih diwaspadai lagi oleh
kalangan orang tua dalam menjaga putra-putri tercintanya. Kekerasan seksual
yang terjadi atau sudah dialami oleh anak tentu akan berdampak besar bagi
kehidupan masa depannya, entah itu berdampak pada kesehatan fisik dan mental
anak sejak dini yang juga akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan
pola pikir mereka ketika menuju dewasa.
Sebagai orang tua kita
harus memahami tanda-tanda apa saja yang dimunculkan oleh anak sebelum
terjadinya kekerasan seksual. Hal ini perlu diperhatikan sebagai bentuk upaya
pencegahan. Tanda-tanda yang harus diwaspadai adalah ketika terjadi perubahan
perilaku yang signifikan terhadap anak seperti menarik diri atau mengisolasi
dirinya sendiri dari kehidupan sosial, lebih pendiam dari biasanya, tidak
terbuka dan lebih tertutup ke orang yang biasanya dekat dengannya, merasa
takut, cemas, dan menghindar ketika bertemu dengan seseorang yang berusaha melecehkannya.
Serta juga terjadi perubahan fisik yang berbeda dari kesehariannya dan
sebelumnya.
Setelah memahami
berbagai tanda yang dimunculkan oleh anak. Sebagai orang tua kita juga perlu
melakukan upaya pencegahan sejak dini agar kekerasan seksual tidak terjadi pada
anak-anak kita di masa mendatang. Beberapa cara efektif untuk mencegah
terjadinya kekerasan seksual yaitu pertama,
kita mengedukasi anak-anak tentang privasi dan batasan sejak dini, yaitu
tentang batasan aurat yang boleh nampak dan tidak nampak di depan orang serta
batasan bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh orang lain sentuh
pada diri mereka, baik oleh mahram atau
non-mahram mereka.
Kedua,
mengajarkan sex education, memberitau
anak-anak mengenai hal yang baik dan buruk dari seks dan kapan waktunya, tentu
hal ini disesuaikan dengan batasan-batasan usia anak kala itu. Ketiga, menjaga dan memberikan
pengawasan yang baik dan cermat pada anak, tentang pergaulannya di rumah dan di
luar rumah dan juga tentang dunia media sosial yang mereka akses atau gunakan
setiap harinya.
Terakhir,
menjaga
hubungan yang baik dengan anak, tidak hanya sebagai orang tua, tapi juga
sebagai teman yang baik dan bisa dipercaya oleh anak. Dengan menjaga
komunikasi, menjadi pendengar yang baik bagi anak dengan saling bertukar cerita
tentang keseharian mereka. Hal ini tentu menjadi kunci utama untuk membangun
kepercayaan, keamanan, dan kenyamanan bagi anak sehingga dia tak segan atau
bahkan takut pada orang tua mereka sendiri untuk mendiskusikan atau menceritakan
masalah apapun yang sedang mereka alami. Karena tak sedikit anak yang lebih
memilih curhat kepada teman sekolahnya dibandingkan kepada orang tuanya.
Hal lain yang bisa
dilakukan oleh orang tua ketika mendapati anaknya sudah mengalami kekerasan seksual.
Salah satunya adalah menjadi support
system terbaik anak-anak mereka. Tetap berada di dekatmya, memberikan
dukungan, dan energi positif pada anak-anak untuk melewati hal buruk yang
menimpanya. Anak-anak yang pernah mengalami kekerasan seksual adalah suatu hal
yang tidak pernah mereka inginkan terjadi kepada dirinya. Keluarga terutama
orang tua adalah rumah, tempat anak-anak kembali dengan berbagai pelukan hangat
agar anak-anak merasa aman dan nyaman untuk pulang serta merasa terlindungi
dari kejamnya kejahatan di dunia luar. Bukan justru menjadi tempat yang sebaliknya.
Oleh:
Putri Ambarwati
Tenaga Pengajar SMP Ar-Rohmah Putri IIBS 2

Komentar
Posting Komentar