9. Opini: STOP JADI GENERASI MICIN PLUS BUCIN! (Malang Post, 18 Januari 2020)
STOP JADI GENERASI MICIN PLUS BUCIN!
Tidak bisa dipungkiri bahwasanya generasi millenial
jaman sekarang tidak terlepas dengan perkembangan kosa kata atau istilah-istilah
baru dan populer di kalangan kids jaman now. Salah satu yang menjadi hits saat ini
adalah ungkapan kata “generasi micin”. Generasi millenial saat ini justru tak asing
lagi dengan istilah ini. Istilah kata generasi micin berasal dari nama bumbu
penyedap rasa yaitu micin (vetsin)/MSG yang saat ini banyak digunakan di berbagai
jenis makanan.
Menurut hasil penelitian Kemkes 2018,
terlalu banyak mengonsumsi MSG dapat menyebabkan gangguan kesehatan seperti menurunnya
daya fungsi otak atau menyebabkan daya berpikir rendah. Maka dari itu, ungkapan
generasi micin ditujukan kepada mereka yang memiliki daya berpikir lama (lemot),
tidak cekatan, dan berani bertindak tanpa berpikir panjang. Sehingga istilah-istilah
tersebut tak jarang digunakan kepada sesama teman sebagai alat untuk mengolok-olok
atau secara tanpa sadar lebih kasarnya lagi digunakan sebagai referensi kata
untuk melakukan tindakan bullying.
Ungkapan tersebut sangat cocok ditujukan
pada generasi saat ini yang sering kali melakukan hal-hal tertentu tanpa berpikir
terlebih dahulu, seperti melakukan hal yang aneh dan lucu, bahkan tindakan yang
sampai di luar batas wajar. Pada umumnya hal-hal tersebut dilakukan hanya untuk
sekadar viral dan terkenal di dunia maya, khususnya di kehidupan sosial media
(sosmed) seperti instagram atau youtube. Saat ini banyak generasi millenial khususnya
anak-anak dan remaja yang rela melakukan hal-hal konyol dengan menurunkan harga
diri mereka hanya untuk sekadar ingin terkenal.
Salah satu hal yang dilakukan generasi
micin jaman now untuk viral yaitu bermain aplikasi tik-tok, dengan membuat
serta mengunggah video-video yang tidak bermanfaat. Bahkan terlebih lagi
banyaknya remaja yang masih duduk di bangku sekolah, dengan bangganya memamerkan
video-video romantis mereka bersama dengan pacarnya. Bergandengan tangan,
saling memberi bunga, berciuman, bahkan melakukan hal di luar batas. Hal ini secara
tidak langsung telah menjatuhkan harga diri mereka sebagai seorang pelajar
berintelektual, yang seharusnya belajar tapi malah lebih banyak menghabiskan
waktu dengan pacaran dan melakukan hal-hal yang sia-sia.
Istilah populer lainnya yang disandangkan kepada
generasi micin sekarang yaitu “Bucin” yang merupakan akronim dari kata Budak Cinta.
Kata Bucin ini ditujukan kepada orang-orang khususnya yang masih berstatus
sebagai pelajar dan sedang menjalin hubungan dan dimabuk asmara dalam ikatan pacaran.
Munculnya kata Budak Cinta bukan tanpa alasan tertentu. Alasan yang menjadikan mengapa
generasi micin saat ini dikenai dengan sebutan Bucin yaitu dikarenakan generasi
millenial saat ini terlalu vulgar dan berlebihan dalam mengekspresikan cinta
terhadap pasangannya.
Coba kita bandingkan gaya pacaran kids
jaman now dengan kids jaman old atau orang-orang terdahulu seperti kakek nenek
moyang kita dulu. Gaya pacaran jaman dulu sangat terbatas oleh adanya alat
teknologi canggih seperti HP sehingga tidak memudahkan mereka dalam melakukan
komunikasi. Di jaman dulu dalam berkomunikasi masih memakai surat. Kalau di jaman
sekarang komunikasi sangatlah mudah dijangkau sehingga saat rindu datang melanda,
tinggal tekan tombol telfon, video call, dan chattingan melalui whatsapp
ataupun media sosial lainnya.
Ketika seorang lelaki rindu dan ingin menemui
pacarnya, maka di jaman dulu si lelaki ini akan langsung datang dan bertamu ke rumah
si perempuan. Saat bertamu pun mereka tidak ditinggal berduaan, tetapi juga
ditemani oleh ayah, ibu, kakak, adik dan seluruh keluarganya yang ada di dalam
rumah. Sehingga interaksi antar si laki-laki dan perempuan masih terjaga karena
ada yang mengawasi. Tapi di jaman sekarang, malah sebaliknya terkadang anak-anaknya
yang mengunci orang tuanya di dalam rumah dan mereka berani kabur meninggalkan
rumah hanya demi menemui pacarnya.
Sungguh miris dan tragis ketika melihat
generasi micin kids jaman now yang bahkan rela viral dengan harga diri terjual
hanya untuk menjadikan dirinya para budak cinta. Hal ini dapat kita lihat
sendiri di berbagai tayangan di youtube ataupun di media sosial seperti Instagram,
ketika ada seorang pelajar yang masih berstatus sebagai siswa SMP, SMA bahkan
ada juga yang SD. Mereka malah memvideokan diri mereka sendiri saat nembak dan memamerkan
kemesraan mereka tanpa adanya rasa malu yang tertanam di dalam diri mereka.
Terutama generasi micin sekarang yang dimanjakan
oleh media sosial, tik-tok, youtube, yaitu dengan mengunggah video-video aneh
dan nyeleneh hanya untuk sekadar ingin terkenal walau harga diri mereka tergadai.
Melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat dan membuang-buang waktu dengan hal
yang sia-sia. Parahnya lagi yaitu ketika mereka rela melakukan tindakan-tindakan
konyol dan memalukan bahkan dengan pacarnya sendiri, hanya untuk dikenal oleh
masyarakat dunia. Asal dunia bahagia dan tertawa, mereka bahkan rela secara
tidak langsung diperbudak oleh dunia.
Lalu, haruskah menjadi terkenal dengan
cara-cara seperti itu? Sedih rasanya melihat generasi muda yang akan menjadi
penerus bangsa Indonesia kini melakukan hal-hal yang tak berguna dan
membuang-buang waktu seperti itu, telfonan tiap malam, antar jemput pacar bak
gojek, antar makanan ke rumah pacar ibarat go-food, berlempar pesan seperti mendapat
pesan dari nomor pusat setiap hari, bermain video tik-tok, mengunggah video yang
tidak penting dan konyol, serta bermain game ML atau PUBG setiap hari.
Tentu sebagai seorang pelajar harusnya lebih
berani untuk unjuk gigi melalui prestasi-prestasi yang diraihnya. Baik prestasi
akademik maupun non akademik yang justru mengharumkan nama baik Indonesia serta
mengangkat derajat bangsa Indonesia. Para generasi millenial sekarang harusnya
mampu melampaui batas dari generasi sebelumnya. Menjadi terkenal dan tersohor
dengan cara terhormat dan bersaing secara sehat di berbagai ajang kompetisi ataupun
menghasilkan suatu karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Bukan dengan cara melakukan
hal bodoh hanya untuk sekadar viral. Marilah menjadi generasi yang cerdas di
masa mendatang dan menunjukkan pada dunia bahwa kita adalah generasi emas yang sangat
berharga untuk bangsa Indonesia dan juga dunia. Saatnya memulai untuk mencintai
ilmu, lalu mencintaimu kemudian.
Jadi
apanya yang harus dikenal.
Kan
orang dikenal karena karyanya.
Ratusan
juta orang di atas bumi ini tidak berkarya yang membikin mereka dikenal.
Maka
tidak dikenal.
-Pramoedya
Ananta Toer-
Putri Ambarwati
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang


Komentar
Posting Komentar