8. Cerpen: Mahkota untuk Ayah Ibu (Malang Post, 22 Desember 2019)
MAHKOTA UNTUK AYAH IBU
Pada
suatu hari, di sore yang cerah terdapat dua anak lelaki adik-kakak yang sedang
memperbincangkan tentang suatu hal penting bagi mereka.
“Al, gimana nih? Satu bulan
lagi ulang tahun pernikahan ayah sama ibu nih.” Ucap Alan dengan wajah serius.
“Lah terus hubungannya ulang
tahun ayah ibu dengan kita apa?” Jawab Ali dengan wajah lugunya sambil
menikmati lelehan es krim di tangannya.
“Yaelah kamu ni Li, gak
paham amat sih. Ya kita harus peka dong, mentang-mentang kamu selisih 2 tahun
aja nie sama aku. Masak abang terus yang harus memahami.” Balas Alan dengan
kata sok puitis.
“Gini loh bang, aku kan
adek yang masih umur 7 tahun. Nah abang umur 9 tahun. Abang lebih tua dong dari
Ali, jadi abang yang harus mengurus semuanya termasuk ngurus ayah ibu dan juga
Ali hehehehehe….” Bantah Ali dengan akal cerdiknya.
“Ishhhhh… kamu pinter
banget yaaa kalau masalah ngeles dengan beribu alasan.” Ungkap Alan gregetan sambil
menggosok kepala adiknya hingga rambutnya berantakan.
Begitulah keseharian kedua
lelaki bersaudara itu, selalu ribut dengan memperbincangkan suatu hal yang
ujung-ujungnya Alan sebagai kakak harus mengalah terhadap adiknya, Ali. Di hari
itu mereka disibukkan dengan mencari sesuatu yang pantas untuk dijadikan hadiah
kepada ayah ibunya. Namun, yang dihasilkan tetaplah nihil karena mereka
belum menemukan sesuatu yang istimewa untuk kedua orang tuanya. Di hari
selanjutnya mereka dipusingkan dengan keuangan yang mereka miliki untuk membeli
hadiah.
“Bang tabunganku cuma segini.”
Kata Ali dengan nada lesu sambil memperlihatkan uang receh lima ratusan yang
berjumlah lima ribu rupiah.
“Wahhhh…. Banyak juga
uangmu dek.” Balas Alan sambil tersenyum untuk tidak mengecewakan adiknya.
“Hahhh iyakah? Yang bener
bang? Yeayyyy…. Bisa beli hadiah untuk ayah sama ibu.” Teriak Ali dengan wajah
merahnya yang kegirangan.
Setelah menggabungkan
uang tabungan yang mereka miliki. Alan yang berposisi sebagai kakak sangat
kebingungan memikirkan hadiah apa yang dapat mereka beli dengan uang dua puluh
ribu rupiah. Hingga di tengah perjalanan, Alan yang saat itu sendirian menuju
masjid bertemu dengan Pak Rahman yang merupakan guru ngajinya di Madrasah.
“Assalamu’alaikum Ali.”
Sapa Pak Rahman
(Tidak ada jawaban)
“Assalamu’alaikum Ali.” Ucap
Pak Rahman sekali lagi
(Tidak dijawab)
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
“ Kata Pak Rahman dengan nada keras sambil menepuk pundak Alan.
“Astaghfirullah hal adzim kaget
kaget…..!!!.” Jawab Alan terkejut.
“Loh
orang bilang salam kok ya dijawab salam toh lan..lan… kok malah jawabannya
kaget. Piye toh ?” Kata Pak Rahman dengan logat jawanya yang kental, sambil
tertawa melihat tingkah konyol Alan.
“Eh,
waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh Pak Rahman. Hehe… maaf ya pak” Balas
Alan sambil tersenyum malu karena tingkahnya.
“Kenapa
nih kamu lan? Kok tumben toh kamu lesu begitu. Biasanya kok yo mbok ceria.”
Tanya pak Rahman penasaran.
“Iya
pak, saya bingung mau ngasi ayah sama ibu hadiah apa di hari ulang tahun
pernikahan mereka pak. Padahal tinggal satu bulan lagi. Sementara itu, uang
tabungan kami juga tidak mencukupi untuk membeli sesuatu yang mewah untuk ayah
ibu.” Jawab Alan dengan nada melas.
“Hemmmm
kayaknya bapak ada saran ni hadiah apa yang cocok untuk ayah ibu kamu. Gratis
lagi gak pakek uang” Ucap Pak Rahman dengan nada serius sambil menahan senyum.
“Wah
yang bener pak? Apa pak? Kasi tau dong pak? Ayo pak! Ayo pak!”. Ucap Alan
penasaran.
“Beneran
mau tau? Kalau pengen tau. Besok sore kamu dan adik kamu harus ke rumah bapak
jam 3 sore, gak boleh molor. Sanggup?”. Tanya Pak Rahman dengan tegas.
“Siap….
Sanggup!!!”. Jawab Alan tegas dengan perasaan yang berbunga-bunga.
Keesokan
harinya Alan dan Ali berangkat ke rumah Pak Rahman lebih awal dari kesepakatan
pertemuan kemarin. Hal ini mereka lakukan agar mereka bisa sampai di rumah Pak
Rahman tepat waktu dan tidak membuat Pak Rahman menunggu. Di tengah perjalanan,
si kecil Ali tak pernah lelah melontarkan beragam pertanyaan kepada kakaknya
untuk memuaskan rasa penasaran yang ada dibenaknya. Ibarat seorang pemancing, Alan
harus bersabar dan siap ketika ikan menggigit umpannya. Begitu pula sebagai
seorang abang, Alan harus sabar dalam menjawab
dan menjelaskan segala pertanyaan yang dilontarkan adiknya walaupun terkadang
pertanyaannya kelewat kritis.
Setelah
beberapa menit mereka berjalan. Akhirnya telah sampailah mereka berdua di rumah
Pak Rahman yang bercat tembok warna orange seperti kulit jeruk. Pak Rahman
menyambut mereka dengan hangat dan menjelaskan secara panjang kali lebar
mengenai hadiah yang disarankan oleh Pak Rahman. Tak terasa, satu jam pun telah
berlalu. Setelah menerima saran dari Pak Rahman, mereka memutuskan untuk pulang
dan merenungkan saran yang telah diberikan oleh Pak Rahman. Saat di rumah,
mereka pun mulai memperbincangkan kembali mengenai hal yang telah dibicarakan
sebelumya di rumah Pak Rahman.
“Jadi
gimana ni dek? Bisa gak ya kita dapat hadiah itu?.” Tanya Alan kepada adiknya.
“
Bisa bang…. Pasti bisa!.” Jawab Ali bersemangat.
“Tumben
semanagat ???.” Tanya Alan curiga.
“Iya
dong. Kan hadiahnya gak pakek uang alyas gratis hehe… “ Jawab Ali tertawa
terbahak-bahak.
“Yaelahhh
kamu Al… al… ckckckckck.” Ucap Alan.
“Enggak
juga sih bang, kan demi ayah ibu juga. Apa sih yang enggak buat mereka berdua.
Ya kan? Ya kan?” Ungkap Ali dengan PDnya.
“Nah
betol, betol, betol, ini ni…baru namanya adik abang.” Kata Alan sambil mengelus
kepala adiknya dengan lembut.
Sejak
hari itupun mereka bertekad dengan mempersiapkan diri untuk mendapatkan hadiah
yang disarankan oleh Pak Rahman. Detik demi detik, hari demi hari, malam berganti
siang, mereka lalui bersama-sama dengan saling mendukung satu sama lain untuk
meraih hadiah yang mereka inginkan.
Tanpa terasa satu bulan
pun berlalu. Hari ini adalah hari yang mereka nanti-nantikan dan
ditunggu-tunggu selama ini. Hingga akhirnya mereka pun selesai mempersiapkan
segalanya. Alan dan Ali pun mengajak kedua orang tuanya ke sebuah tempat yang
penuh dengan keramaian. Tempat itu sangat asing di mata mereka walaupun sering
kali mereka lewati.
“Kita
ngapain kesini nak?” Tanya Ibu Fatimah kepada si bungsu.
“Ibu
ayah… kita disini mau ngasi hadiah buat ayah ibu. Sekarang kan hari istimewanya
ayah sama ibu.” Jawab Ali dengan polosnya.
“Hemmmm
anak ibu emang selalu bikin hati ibunya tersentuh dan deg-degan ya.” Balas bu
Fatimah sambil memeluk anaknya yang lucu.
“Siapa
dulu dong ayahnya ? Hehehehe….” Tambah Pak Abu dengan nada bangga.
“Emang
apa hadiahnya sayang?” Tanya bu Fatimah
Mereka
pun terdiam, dan tiba-tiba menaiki sebuah panggung yang terletak disana. Secara
perlahan mereka lantunkan ayat-ayat suci Al- Quran dengan nada yang syahdu. Pak
Abu dan Ibu Fatimah pun terkejut melihat buah hati kecilnya berada di atas
panggung. Setelah menyelesaikan bacaannya. Mereka pun mengatakan tentang hadiah
untuk kedua orang tuanya
“Ayah
ibu… kami masih kecil. Tapi kami ingin memberikan hadiah yang paling besar dan
terbaik untuk ayah dan ibu. Jadi kami memutuskan untuk memberikan hadiah
teristimewa yang tak ada di dunia ini dan, eh eh eh…..” Ucap Alan tak sampai
selesai, Mic di tangannya tiba-tiba direbut paksa oleh adiknya
“Dan
Ali juga mau ngasi kado mahkota sama baju emas untuk ayah ibu. Ali gak mau kalau nanti Ali keduluan sama bang Alan. Kan Ali
mau jadi yang paling pertama ngasi hadiahnya. Kata pak ustadz siapa yang hafal
Al-Quran nanti ayah ibunya dikasi mahkota sama Allah di surga.” Balas Ali
dengan wajah polosnya yang serius tak ingin terkalahkan.
“Ini
hafalan Al-Quran dan ini hadiah kami untuk ayah ibu, kami memang tak bisa
memberikan mahkota di dunia ini, tapi kami akan berusaha untuk memperebutkan
mahkota dari surga untuk kami persembahkan untuk ayah dan ibu.” Ucap Ali dengan
wajah bahagia.
Setelah
mendengar hal tersebut Pak Abu dan Ibu Fatimah berlari ke atas panggung dan
memeluk mereka berdua dengan perasaan haru. Tanpa mereka sadari kedua putranya
mengajak mereka ke acara Tahfidz Quran untuk menunjukkan kecintaan mereka
kepada dirinya melalui hafalan Al-Quran. Dengan tekad dan semangat serta
bimbingan dari Pak Rahman akhirnya mereka dapat menyelesaikan hafalannya dalam
waktu satu bulan walaupun masih belum sempurna. Namun, cita-cita mereka untuk
menjadi Hafidz Al-Quran tak akan pernah memudar karena kecintaan mereka kepada
kedua orang tuanya.
Rasulullah SAW bersabda:
Siapa yang menghafal
al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota
bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua
orang tuanya akan dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak bisa dinilai
dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa saya sampai diberi
pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah
mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim 1/756 dan dihasankan Al-Abani).
-TAMAT-
Putri
Ambarwati
Mahasiswa
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas
Muhammadiyah Malang

Komentar
Posting Komentar