7. Puisi Perempuan Perkasa (Malang Post, 08 Desember 2019)

 PUISI

 

“PEREMPUAN PER(k)ASA”


Ibu, berkenankah kau jika aku bercerita?

Bercerita tentang rasa sakit, pahit, manis, bahagia, dan tragis

Tentang diriku dan dirimu…

 

Ibu tahukah engkau?

Aku menangis ketika ibu mulai berlaku sadis

Aku berusaha ramah saat ibu sedang melampiaskan amarah

Aku tertunduk lesu ketika ibu tak lagi percaya padaku

 

Dan aku tersadar…

 

Bahwa kau sadis bukan berarti bengis

Tapi untuk menempa diriku agar lebih kuat dan tidak mudah menangis

Kau marah bukan karena amarah

Tapi di dalamnya tersimpan nasehat di balik banyaknya ceramah

Kau tak percaya bukan karena keyakinanmu

Tapi karena kau tak ingin aku terluka saat aku bertarung sebelum waktunya

 

 Tahukah engkau Ibu?

Aku cemburu saat ibu memilih mendua dariku

Aku mengeluh kala ibu menyuruhku taat pada beribu aturan

Aku merasa sepi di waktu ibu memutuskan untuk pergi

 

Ibu, maafkan aku….

                                  Ternyata ada banyak hal yang tak ku tahu tentangmu… 

 

Kau mendua bukan karena tak lagi cinta

Tapi untuk membuatku belajar bahwa cinta tak seegois wanita

Kau memintaku taat bukan untuk menjadikanku pejabat

Tapi untuk membuatku ingat bahwa dunia hanyalah sesaat

Kau memutuskan pergi bukan maksud tak kembali

Tapi agar aku belajar bagaimana rasanya hidup mandiri

 

Ibu, kau sengaja menjadikanku berbeda

Agar aku tak sama

Agar aku menjadi perempuan perkasa yang tak hanya perasa

Tapi juga tangguh mengemban amanah

 

Masih teringat dengan jelas perkataan ibu yang terucap

“Hanya Kau Harapan Ibu Satu-satunya”

Satu kalimat denga tiga belas suku kata.

Ya, hanya satu kalimat yang terdiri dari 6 kata.

 

Mampu membuatku bertekuk lutut,

 Untuk menyerah pada kegagalan.

Mampu mengembalikan energiku,

Yang sudah kehabisan bahan bakar.

Mampu menegakkan kembali kepalaku,

Yang kian hari mulai tertunduk lesu.

Mampu membuatku terus melangkah maju,

Walau ku tahu yang menanti adalah ketidakpastian.

Mampu meyakinkan kembali mimpi-mimpiku yang sempat mati,

Walau kenyataan mengatakan bahwa mimpiku adalah suatu kemustahilan.

 

Dan aku tersadar kembali…

Ibu berlaku seperti itu

Karena…

 

Tinggal Aku

“Harapan Ibu Satu-satunya”



 


KISAH FLAMINGGO

Elang mengulurkan sayapnya tuk mengajak Flaminggo terbang.

Namun, Flaminggo menghiraukan Elang dengan bersikap tak acuh.

Bukan karena tak ingin, tapi karena ada alasan lain.

 

Ketika Elang mulai terbang tinggi.

Flaminggo hanya bisa menatap dalam diam.

Elang pikir, Flaminggo menolak karena benci.

Nyatanya, dia tak ingin menyakiti Angsa yang sejak tadi menatapnya tajam.

 

Flaminggo mulai mengerti, bahwa Si Putih sejak tadi sedang membakar hati.

Menyembunyikan luka dibalik tawa.

Ah, Si Putih mulai menggunakan topengnya kembali rupanya.

Sebagai sesama jenis yang tak bisa terbang, Flaminggo paham.

Bahwa Putih sedang menaruh hati pada Elang.

 

Tak ada niatan untuk saling menyakiti.

Flaminggo semakin menjaga jarak dengan Elang.

Membuat Elang menjadi salah paham dan merasa tersakiti.

Dan bertanya-tanya, kenapa Flaminggo tak mau terbang bersamaku?

Elang berpikir, bahwa Flaminggo membencinya.

 

Hingga pada akhirnya, Elang melepaskan Flaminggo.

Elang tak lagi berharap dan Flaminggo tak ingin memberikan harapan.

Tak ada yang saling memiliki.

Tak ada lagi tawa.

Yang ada hanyalah, ketiganya sama-sama terluka.

 

Elang terluka karena Flaminggo.

Angsa terluka karena Elang.

Dan Flaminggo terluka karena keduanya.

Lagi dan lagi, flaminggo terluka.

Karena dirinya sendiri…

 




RINDUKU (TAK) SEDERAS HUJAN SORE ITU

Hari ini hujan.

Hujan yang tak sederas hujan di sore itu.

Hujannya mirip, tapi tetap saja tak sama dengan waktu itu.

Dengan engkau yang menggenggam payung, sambil menungguku.

Dan aku yang membawa kunci.

Namun tak sempat mempersilakanmu untuk masuk.

 

Mungkin terlalu takut.

Mungkin terlalu gugup.

Panas dingin rasanya.

Sebelum aku tau, rasa itu apa namanya?

 

Sore itu…

Waktu pertemuan kita tanpa tatap muka.

Sampai hari ini pun aku tak berani tegur sapa.

Karena hati yang selalu berteriak lebih dulu untuk menyapamu dalam diam.

Dan saat itu pula lisan telah diambil alih, terkunci, dan tak bisa berkata apa-apa.

 

Aku yang biasa-biasa saja pada yang lainnya.

Selamanya takkan pernah bisa bersikap biasa padamu.

Hujan tahu itu...

Karena melaluinya aku merindu.

Dengan perantaranya aku mengadu.

Dan bersamanya aku menjadi candu.

 

Saat melihatnya, saat itu pula aku mengingatmu.

Dirimu yang tak dapat kuingat dengan jelas.

Karena sejak dulu melihat wajahmu adalah pantangan bagiku.

Karena jelas... aku takut.

Aku takut diriNya cemburu.

 

Walau kenyataannya, hingga hari ini…

Rinduku lebih deras dari hujan kala itu…


Hujan sore ini.

Bisakah kau menjadi hujan sore itu?

Dalam pertemuanku dengannya.

Aku ingin bersikap biasa saja.

Tanpa ada rasa.

Menarik paksa rasa yang pernah ada.

Hingga ku bisa bertegur sapa.

Tanpa ada dingin dan kaku, diantara kita.

 

Dan mulai mengganti rindu.

Dengan rinduku yang tak lagi sederas hujan sore itu…





Komentar

Postingan populer dari blog ini

23. Resensi Buku "Kami (Bukan) Jongos Berdasi"

21. Antologi Buku: "Bawa Aku Kembali, Tuhan" dalam Buku The Amazing Me (Ruang Nulis, Agustus 2021)

10. Opini: Perempuan Tonggak Peradaban (Portal Madura 22 Januari 2020)