6. Puisi Ibu Pertiwi (Malang Post, 10 November 2019)

 

PUISI

Sajak Rintihan Ibu (Pertiwi)

Tergerak pena ini untuk menulis, bait demi bait pada sebuah halaman.

Tuk mulai bercerita, tentang kisah yang pernah berjaya dimasanya.

Tentang cerita usang yang dikenang, namun tak lagi didongengkan.

Tentang ibu yang dulu tertawa suka, tapi kini tertunduk lesu melawan duka.

 

Orang bilang kita merdeka...

Terbebas dari belenggu rantai penuh siksa…

Katanya, rakyat pinggiran berjaya...

Para pemuda kaya raya dengan berkarya...

Anak-anak bisa makan dengan lahap, hingga berdiri saja tak lagi berdaya...

 

Lantas...

Mengapa Ibu masih kehilangan gairah kala menatap?

Kobaran semangatmu padam, bak api yang teredam.

Hingga akhirnya, kini Ibu jenuh untuk terus menetap dalam satu atap.

Lantaran paham bahwa alam semesta sedang berperang, karena saling menyimpan dendam.

 

Ibu pertiwi menangis...

Meratapi luka di lautan karam.

Sakit hati lantaran air laut birunya yang kini berubah warna menjadi hitam kusam.

Ikan-ikan tak lagi menyantap sarapan yang layak untuk dimakan.

Karena ribuan kilogram plastik kini tergenang, lalu direkrut perut menjadi penghuni langganan.

 

Ibu pertiwi tertawa duka...

Menyimak para borjuis yang berlagak eksis.

Mereka berfoto narsis di depan rakyatnya yang terpaksa menjadi pengemis.

Tersenyum sinis, dengan mulut yang berbau amis.

Mereka lupa bahwa sebagian dari dirinya adalah iblis.

Yang mengikis habis hak rakyat untuk merdeka, sebaris demi baris.

 

Ibu pertiwi memerah karena amarah…

Tak kuat menahan geram, melihat perilaku manusia yang tak berhati.

Saling mencaci maki, hingga tak segan menyakiti.

Lupa ternyata mereka, tak sadar bahwa ia dilahirkan dalam rahim yang sama.

Setiap hari tak terlepas dari kisah, sebuah cerita melodrama.

 

Ibu pertiwi, mari kembali…

Sejenak redam amarahmu.

Hari ini aku merindu senyum hangatmu yang dulu.

Saat menyambut setiap langkah kaki yang datang menjadi tamu.

Memberikan kedamaian pada jiwa-jiwa yang terluka di masa lalu.

 

Terutama luka dalam jiwa aku dan kamu

………

 

 


 

KEKASIHKU

Aku merindu…

Seperti bumi yang merindu matahari

Seperti malam yang merindu pagi

Seperti hujan yang merindu pelangi

Seperti aku yang sedang merindumu saat ini

 

Merindu dirimu…

Dirimu yang rela memperjuangkanku

Dirimu yang sejak dulu selalu mencintaiku

Dirimu yang menjadi panutan dalam hidupku

Dirimu yang rela mengemban sakitnya penderitaan di dunia demi diriku

 

Namun pantaskah aku mendapatkan cinta darimu?

Manusia berhati baja, penuh luka dan lara

Manusia yang tak pantas memohon di hadapan sang Raja

Manusia yang penuh jejak-jejak hitam di masa lalu

 

Kekasihku..

Pusatkanlah pikiranku tentang dirimu

Di setiap detik, jam, hari, dan tahun yang akan berlalu

Penuhi hatiku dengan cinta terhadapmu

Seperti dirimu yang mengingatku di saat detik-detik terakhir kepergianmu

Dan mengatakan…

Ummati… ummati… ummati…

 

LELAHKU LILLAHKU

Lelah...

Mendengar ceramah yang monoton

Bagaikan di bioskop yang menjadi seorang penonton

Selalu bercerita ibarat lari pendek sampai lari maraton

Begitulah keluhan yang kudengar dari mereka berotak beton

 

Penat...

Menjadi seperti yang mereka tuntut

Dengan tekanan-tekanan yang tak patut

Beragam tugas-tugas menumpuk dengan deadline yang runtut

Terstruktur satu demi satu, hingga kami akhirnya bertekuk lutut

 

Bagitulah belajar...

Penat lelah belajar dalam hidup

Jangan sampai semangat belajar meredup

Karena kita berjanji untuk sanggup

Dalam memberantas para korup

 

Jadikan lelah sebagai berkah

Yang mengharap rida hanya dari Allah

Semoga berbuah menjadi amal jariah

Semasa hidup maupun saat diri kan menjadi jenazah…

Putri Ambarwati

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang




Komentar

Postingan populer dari blog ini

23. Resensi Buku "Kami (Bukan) Jongos Berdasi"

21. Antologi Buku: "Bawa Aku Kembali, Tuhan" dalam Buku The Amazing Me (Ruang Nulis, Agustus 2021)

10. Opini: Perempuan Tonggak Peradaban (Portal Madura 22 Januari 2020)