5. Opini: Merosotnya Nilai Pendidikan dalam Acara TV Indonesia (Memo-X, 13 November 2019)

 MEROSOTNYA NILAI PENDIDIKAN DALAM ACARA TV INDONESIA

Masyarakat Indonesia sudah tidak asing lagi dengan adanya sebuah TV (televisi). Hampir di setiap rumah warga negara Indonesia dimanjakan oleh adanya fasilitas berupa TV yang digunakan keluarga sebagai bahan hiburan keluarga, seperti menonton film dan sinetron serta update informasi terkini seperti berita dan gosip. Hal ini sudah biasa di dalam ruang lingkup masyarakat sekitar.

Pada saat keluarga menonton TV, hal ini tidak terlepas juga dari jangkauan anak-anak untuk turut serta menikmati hiburan yang ditayangkan dalam televisi. Hal ini tidak menutup kemungkinan bagi anak-anak untuk melihat suatu tontonan yang seharusnya masih dalam pengawasan kedua orang tuanya. Khususnya hal ini adalah suatu peringatan ketat atau warning bagi para orang tua yang masih awam dan orang tua yang tergolong memiliki Pendidikan yang rendah.

Acara televisi Indonesia saat ini sangat miris karena memiliki nilai Pendidikan yang sangat merosot secara drastis. Salah satunya pada contoh acara TV dengan judul sinetron “Pernikahan Dini”. Sinetron tersebut mendeskripsikan mengenai para remaja yang melakukan pernikahan sejak dini atau saat usia remaja. Selain itu juga menceritakan tentang seorang remaja yang menghamili perempuan di luar nikah serta perilaku mengenai perselingkuhanpun ada.

Pada kenyataannya di masa sekarang ini, anak-anak lebih cenderung menyukai film yang kebaper-baperan atau film yang berbau romansa. Seperti halnya FTV yang sering ditayangkan di channel SCTV dengan berbagai judul yang nyeleneh dan aneh. Film-film tersebut justru selalu ditayangkan setiap harinya, entah pada saat siang hari ataupun malam hari.

FTV yang khusus ditayangkan oleh pihak SCTV secara berurutan ini memiliki judul dan topik yang berbeda di setiap penayangannya. Namun intinya sama, yaitu cerita mengenai hal-hal yang berbau romansa. Salah satu judulnya yaitu “Playboy Cap Jengkol”, “Cantik-cantik Supir Tembak”, “Ternak Lele, Panen Jodoh”, “From Pembantu, Jadi Mantu,” “Terciduk Cinta Kids Jaman Now”, “Bengkel Service Patah Hati”, dan “Romansa Cinta di Kandang Bebek”. Hal ini justru sangat menarik perhatian anak-anak dan para remaja karena pada dasarnya di usia dini mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan masih dalam masa pubertas yang juga bisa dikatakan tahapan masa cinta monyet.

Genre film kesukaan antara para orang tua dan anak-anak justru sangat berbeda. Pada umumnya para orang tua lebih tertarik dan menyukai menonton film azab yang ditayangkan di channel Indosiar. Salah satu contohnya yaitu berjudul “Jenazah Pengemis Gadungan Liang Lahatnya Dipenuhi Beling dan Tertutup oleh Sampah” dan “Pasangan Pengoplos BBM Mati Terbakar Bensin, Jenazahnya tertimpa Tiang Listrik dan Liang Lahatnya Tersambar Petir Berkali-kali”.

Para orang tua banyak menggemari FTV tersebut, karena menurut sebagian para orang tua, film tersebut merupakan cerminan dari kehidupan masyarakat sekitar dan mengandung pesan moral pada masyarakat. Namun apakah film-film tersebut juga cocok untuk dikonsumsi oleh anak-anak? Apabila dibandingkan antara FTV romansa SCTV dengan FTV Azab di Indosiar. Berikut beberapa pemaparan mengenai perbedaan di antara keduanya:

Dari Segi Pemain atau Aktor

            Dari sudut pandang pemain atau aktor yang menjadi pemeran tokoh di dalam kedua FTV tersebut tidak jauh berbeda. Namun perbedaan yang paling menonjol yaitu apabila di FTV Azab Indosiar lebih dominan menggunakan aktor yang terbilang sudah dewasa sedangkan pada FTV romansa SCTV dominan menggunakan aktor para remaja atau usia yang tergolong menengah dewasa. Hal tersebut kemungkinan tergantung dari sasaran film tersebut kepada siapa dipasarkan atau juga menyesuaikan dengan keinginan konsumen yang ada.

Dari Segi Alur Cerita

Alur cerita pada FTV Azab, konflik yang disajikan lebih kompleks dibandingkan dengan alur cerita pada FTV Romansa SCTV. Pada FTV Azab cenderung lebih mengarah pada konflik-konflik kemanusiaan yang terdapat dalam kehidupan sekitar ataupun kehidupan bermasyarakat. Yang mencerminkan tentang kebaikan Tuhan dan juga hukuman yang akan diberikan oleh Tuhan berupa azab. Sedangkan pada konflik romansa SCTV lebih cenderung ke masalah percintaan semata yang selalu memiliki akhir bahagia.

Dari Segi Pesan Moral

            Dari perspektif pesan moral yang disampaikan. Jika FTV Azab Indosiar lebih menekankan pada pesan moral dalam kehidupan keluarga, entah itu untuk anak-anak, remaja suami-istri, dan orang tua. Yang biasanya berisi tentang pesan yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan, seperti mengingatkan kita agar tidak durhaka kepada orang tua, dan saling menghargai serta berbuat baik antar sesama. Sedangkan pada FTV romansa SCTV lebih menekankan pada gaya hidup romantisme anak berpacaran masa kini serta kehidupan patah hati saat disakiti atau ditinggalkan oleh orang yang dicintainya.

            Walaupun kedua film tersebut bersifat imajinasi atau khayal. Khususnya pada film azab yang terkadang tidak bisa diterima oleh logika atau daya nalar manusia. Akan tetapi kenyataannya kejadian-kejadian tersebut nyata adanya di berbagai kehidupan masyarakat sekitar. Akan tetapi sebagai orang tua yang cerdas, kita harus selektif dalam memilihkan tontonan yang layak atau tidak layak untuk ditonton oleh anak-anak kita.

            Jika dianalisis dan dilihat dari berbagai segi tersebut. Tontonan yang banyak mengandung pesan moral dan hikmah di dalamnya tentunya yang lebih baik adalah FTV Azab dibandingkan dengan FTV Romansa SCTV. Akan tetapi jika usia anak-anak masih belum cukup untuk menangkap hal-hal yang ditayangkan di acara FTV tersebut sebaiknya perlu adanya pendampingan intens dari para orang tua. Hal ini dilakukan untuk mengklarifikasi atau meluruskan apabila terdapat kesalahpahaman dari apa yang telah mereka tonton tadi.  

            Anak-anak adalah generasi penerus bangsa Indonesia.  Masa depan Indonesia saat ini ada dalam genggaman generasi muda masa kini. Apabila input yang dimasukkan baik, maka output yang dikeluarkan sudah pasti juga baik. Sebagai orang tua yang bijak. Kita harus dapat memilih dan memilah tontonan televisi secara hati-hati, mengenai tontonan apa saja yang sesuai dan tidaknya untuk anak-anak.

 

Putri Ambarwati

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Universitas Muhammadiyah Malang

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

23. Resensi Buku "Kami (Bukan) Jongos Berdasi"

21. Antologi Buku: "Bawa Aku Kembali, Tuhan" dalam Buku The Amazing Me (Ruang Nulis, Agustus 2021)

10. Opini: Perempuan Tonggak Peradaban (Portal Madura 22 Januari 2020)