3. Resensi: Jejak dari Kepergian Cinta (Memo-X, 2 Maret 2017)
Jejak dari Kepergian Cinta
Judul : Merayakan Kehilangan
Penulis : Bhrian Khrisna
Penerbit : mediakita
Tahun Terbit : 2016
Tebal Buku : 222 halaman
Harga Buku : Rp.46.400
Presensi : Putri Ambarwati.
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang, Angkatan 2016
Perihal cinta. Semua orang pasti akan merasakan apa itu jatuh cinta. Sebuah rasa yang membawa suka tapi tak jarang pula membawa sakit dan luka. Namun itulah yang dinamakan kehidupan di dunia percintaan. Melalui buku ini yang berjudul “Merayakan Kehilangan”, seorang penulis yang bernama Brian Khrisna menumpahkan semua tentang perasaannya di dalam buku ini tentang indah dan pahitnya cinta yang dia rasakan. Buku ini berbeda dengan sebuah novel ataupun cerpen lainnya. Namun, lebih pantas disebut sebagai tulisan dari catatan diary yang ditulis kemudian dirangkai menjadi sebuah cerita yang saling sambung menyambung satu sama lainnya.
Setiap cinta pasti akan meninggalkan jejak, entah itu luka ataupun sebuah kebahgiaan dan semua itu tergantung dari bagaimana diri kita dalam mengelola cinta . Di dalam buku ini terdiri dari banyak sekali bagian. Di awal-awal bagian penulis menceritakan tentang dirinya yang telah tersakiti oleh seorang wanita yang sangat dicintainya. Seseorang yang dulu dekat dan saling mencintai, tapi sekarang salah satu diantara mereka ingin cepat-cepat pergi yaitu sang bunga hati. Salah satu kutipan yang sangat menarik hati di bagian ini yaitu "Sungguh, jarak terjauh bukanlah ratusan kilometer antara surabaya dan jakarta, melainkan dua hati yang berbeda keinginan, antara memilih bertahan atau meninggalkan". (hal 14)
Penulis sangat mencintai kekasih hatinya melebihi dari apapun. Dia melakukan segala hal hanya untuk membuat sang pujaan hati bahagia ketika berada didekatnya. Tetapi berbeda dengan apa yang si wanita rasakan. Menurut si wanita, seorang yang mencintai dirinya bukanlah dari segalanya. Hingga si wanita memilih pergi meninggalkan tanpa sebuah pesan dan juga alasan. Penulispun terpaksa melepaskan cintanya hanya untuk melihat orang yang dicintainya bahagia. Walaupun hanya ada dia sendiri yang merasakan sakitnya luka. "Ternyata selama ini aku bukanlah satu-satunya. Aku adalah satu dari sekian banyak tempat singgah yang kau coba pertahankan. Pengisi waktu, ketika cintamu pergi dan kau kesepian seorang diri". ( hal 27).
Berlarut larut dalam kehilangan dan kesedihan akan kepergian cintanya. Berlarut larut pula dalam hal melepaskan dan melupakan. Penulis yang selalu berusaha melupakan, bersikap tegar, dan turut bahagia ketika melihat wanita yang dicintainya bersanding dengan orang lain dengan wajah berserinya. Tetapi hal itu adalah paling menyakitkan yang dirasakannya "sekarang kamu bahagianya tanpa aku. Tapi bahagiaku hilang tanpa kamu" (85). Waktu terus berlalu, penulis yang masih merasakan luka lama berusaha membuka lembaran dan dunia baru. "Waktu sebenarnya tidak bisa menyembuhkan luka. Ia hanya membuatmu terbiasa akan hari-hari yang tanpa dirinya lagi, membuat hatimu mulai berani menerima kenyataan, bahwa tanpanya, kau bisa baik2 saja" ( hal 130). Seiring berjalannya waktu penulispun kembali membuka hati untuk cinta dan menemukan sosok wanita baru yang dicintainya hingga kini. Wanita yang berbeda dan lebih baik dari masa lalu
Banyak hal yang bisa kita petik dari buku ini khususnya dalam dunia lika liku percintaan. Terutama dalam melupakan seseorang karena tak ada waktu yang cepat untuk dapat melupakan seseorang yang pernah selalu ada. Kau hanya bisa berusaha mengurangi rasa rindu itu perlahan setiap harinya hingga pada akhirnya tidak ada lagi rindu yang tersisa. Selain itu, buku ini juga mengajarkan kita tetap tegar saat cinta mulai menjatuhkan. Memulai dunia baru untuk masa depan yang baru. Dan untuk bangkit, setidaknya kita harus jatuh terlebih dulu. Hiduplah seperti bola, semakin keras ia dijatuhkan,semakin tinggi juga ia memantul dari tempat ia dijatuhkan untuk pertama kali. Banyaknya kata-kata puitis di dalam buku ini sebagai penyampai isi hati sehingga akan menyentuh hati dan perasaan para pembacanya.
Buku ini banyak memberikan gambaran tentang dunia percintaan, terutama saat seseorang yang kita cintai pergi meninggalkan kita. Maka dari itu, buku Ini, sangat direkomendasikan kepada orang-orang yang sedang jatuh cinta atau tersakiti karena cinta. Karena banyak sekali pesan-pesan yang dapat kita petik. Pesan terakhir dari buku ini mengatakan "Beranilah untuk jatuh cinta. Ketika kau berhasil, kau akan bahagia. Ketika kau gagal, kau akan belajar cara-cara yang salah. Untuk menggapai bahagia. Kau butuh dua hal itu".
(Putri Ambarwati, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UMM)

Komentar
Posting Komentar