20. Antologi Buku: "Hijabku, Jiwaku" dalam Buku My Hijab My Life (Ruang Nulis, Agustus 2021)
Awal
pertama aku memakai hijab adalah suatu keajaiban dari Allah yang Dia anugerahkan
untukku karena dibalik itu semua terdapat proses panjang yang berliku tanpa
diduga. Aku merupakan gadis yang tinggal di sebuah desa dengan orang-orang yang
masih sangat awam tentang tentang jilbab. Terutama bagi ibuku dan juga
keluargaku. Bagi mereka jilbab merupakan hal kuno dan tidak kekinian sehingga tak
banyak dari mereka yang mendukungku untuk berjilbab.
Rasa
itu dimulai sejak aku menduduki Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat itu aku
memiliki seorang sahabat yang memantapkan hatinya untuk memutuskan berjilbab,
tidak hanya karena tuntutan sekolah, namun saat di luar lingkungan sekolah pun
ia tetap memakai kerudung. Lalu aku
bertanya padanya mengenai alasannya memakai kerudung. Salah satunya adalah
karena tuntutan dari orang tuanya dan dari dirinya sendiri yang memang ingin
serta merasa nyaman.
Sebagai
seorang perempuan yang fitrahnya memiliki rasa malu memang sudah sewajarnya
pada masa puber aku merasa malu ketika orang-orang menatapku dengan rambutku
yang tergerai panjang. Orang-orang memuji tentang kecantikan dan keelokan paras
wajah dan uraian rambut yang terukir dengan sempurna. Tapi entah mengapa, aku
merasa risih ketika menjadi sorotan yang tak pernah aku ingini. Pertanyaan yang
berkaitan dengan hijab masih menjadi sebuah tanda tanya besar yang belum
terjawab saat itu tentang mengapa temanku memakai jilbab sedangkan aku tidak.
Lalu
aku mulai mencari informasi dengan menonton TV yang berisi ceramah-ceramah dan membaca
buku. Saat itu akses untuk mendapatkan buku di desaku sangatlah sulit. Tidak
ada toko buku di desaku. Maka jika ingin membeli buku harus memesan online
melalui facebook atau sms karena saat itu belum ada WA, BBM, Shopee, dan
sebagainya. Kemudian sahabatku memberikan hadiah terbaik yang menjadi jawaban
dari segala pertanyaanku melalui sebuah buku bertema tentang hijab. Kemudian saat
itulah aku memantapkan hatiku, aku ingin segera menggunakan jilbab.
Iya,
ketika aku mengatakan kepada keluargaku bahwa aku ingin memakai jilbab dengan
cara yang halus melalui pembahasan awal tentang sahabatku yang memutuskan
berjilbab selalu menjadi sebuah pertentangan. Ketika itu jilbab hanyalah sebuah lambang dari
pencitraan yang hanya boleh digunakan oleh para gadis yang bersekolah di pondok
pesantren atau orang-orang yang umroh dan naik haji. Hanya merekalah yang wajib
menggunakan jilbab menurut orang-orang di desaku. Saat itu, rasa sedih menyayat
hati karena ketika akan memasuki SMA orang tuaku tidak setuju jika aku ingin
bersekolah di pondok pesantren dengan alasan yang tidak bisa aku terima.
Alasan terkuat
mereka tak ingin aku masuk pesantren karena berkaca dengan melihat para gadis
di lingkungan desaku yang setelah lulus pesantren, mereka langsung menikah dan
membina keluarga tanpa melanjutkan pendidikan atau berkarir. Alasan yang
menurutku tidak semua perempuan dapat disamaratakan memiliki pemikiran seperti
itu, termasuk aku. Kadang, dulu aku sempat berpikir dan memiliki impian untuk naik
haji saja agar aku bisa menggunakan jilbab. Berusaha meruntuhkan pemahaman
orang awam yang sudah tertanam pada pikiran orang tua sangatlah sulit. Harus sabar,
pelan-pelan, Allah akan kasi jalan, ucapku saat itu berusaha menguatkan diri
sendiri.
Jika perempuan-perempuan
lainnnya diberikan kemudahan jalan di lingkungannya untuk berjilbab, namun ia
tak ingin berhijab dengan alasan bahwa ia ingin menghijabi hati dulu adalah
suatu hal yang sebenarnya harus mereka syukuri karena lingkungannya saat itu
sangat mendukungnya dan Allah memberikan jalan kemudahan baginya. Dibandingkan
diriku yang menjilbabi hati (tekad hati ingin berjilbab) namun ditentang oleh orang-orang
sekitarnya, hal itu sungguh sangatlah sulit yang membutuhkan luasnya kesabaran.
Ketika detik-detik
memasuki masa SMA aku selalu berdoa agar Allah berikan jalan dan meluluhkan
hati keluargaku agar mereka mendukungku berhijab. Doa yang tiada henti
kupanjatkan ketika malam menjelang. Lalu sepintas berharap, aku ingin melanjutkan
sekolah yang jauh dari rumah, agar ketika aku berjilbab orang tuaku tidak mengetahuinya.
Lalu, tanpa diduga keajaiban itu datang tanpa diharapkan, tanpa terduga
sebelumnya. Aku diterima di sekolah favorit di kota melalui jalur undangan dan
tanpa tes. Allahu Akbar, sujud syukur dan air mata antara haru dan bahagia
bercampur menjadi satu.
Setelah itu aku
kemudian merantau dan jauh dari orang tua. Aku memutuskan untuk menepati
janjiku pada Allah. Aku masih ingat, saat itu adalah hari Jumat. Hari yang di dalamnya
dipenuhi dengan kebaikan, dan juga hari ketika aku memutuskan untuk berjilbab
secara utuh untuk pertama kalinya. Lalu ketika aku pulang ke rumah, aku memutuskan
tetap memakai jilbabku sebagai sebuah identitas bahwa aku seorang muslim.
Orang-orang rumah
dan para tetanggaku kaget melihat perubahanku. Aku bersikap biasa saja dan
mencoba menjelaskan kepada kedua orang tuaku pelan-pelan tentang keputusanku
untuk berjilbab. Bahwa jilbab bukanlah sebuah tradisi sebagaimana yang diyakini
oleh masyarakat desa di rumahku, jilbab adalah suatu hal yang wajib dan
diperintahkan Allah untuk setiap muslimah, jilbab akan lebih menjagaku dari mata-mata
liar lelaki yang memiliki niat jahat padaku, dan jilbab adalah panggilan hati
yang membuat aku merasa teduh. Selama aku tidak melakukan hal yang salah dan
memalukan keluarga, aku harap mereka mengerti dan membukakanku sedikit pintu
agar mulai melangkah dengan apa yang aku yakini.
Hingga sampai pada
masa ini. Masa aku yang mulai beranjak dewasa dan sekarang mulai berproses menggunakan
hijab syar’i bukanlah perjalanan yang mudah bagiku. Melainkan melalui perjalanan
panjang, pelan-pelan memberikan penjelasan kepada kedua orang tua dan keluarga,
dan sungguh Allah Maha Baik. Dia yang menjagaku, Dia yang meluluhkan hati kedua
orang tuaku, dan Dia yang membukakan pintu-pintu itu agar lebih mudah aku lalui.
Yang bisa aku pelajari dari semua kejadian ini adalah kita memang tak bisa
memilih agar dilahirkan dari orang tua seperti apa. Tapi kita bisa memilih
untuk menjadi orang tua seperti apa dan belajar untuk menjadi orang tua yang
lebih baik dari kedua orang tua kita di masa lalu. Niat baik selalu Allah
bukakan pintu jalan untuk senantiasa menuju dalam kebaikan.

Komentar
Posting Komentar