2. Opini: Tanda Tanya Uang Terbaru (Memo-X 14, Februari 2017)

 

TANDA TANYA (?) UANG TERBARU INDONESIA

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia sedang gencar-gencarnya memperbincangkan tentang mata uang terbaru Indonesia yang telah diperbarui oleh pemerintah. Beberapa hari yang lalu presiden joko widodo secara resmi meluncurkan uang rupiah yang terbaru melalui Bank Indonesia. Banyak perubahan yang dilakukan pada uang terbaru kali ini, mulai dari warna, kertas, ukuran, bentuk, gambar, dan desain. Hal ini secara tidak langsung banyak memicu pro dan kontra dari kalangan masyarakat, disebabkan beragamnya perbedaan pandangan dari masing-masing individu. Berbagai permasalahan dan pertanyaan pun muncul dan hangat untuk diperbincangkan oleh masyarakat baik dari kalangan orang tua atapun remaja dan anak-anak. Hal ini sudah menyebar luas melalui dunia maya atau yang biasa disebut dengan media sosial sehingga masyarakat mudah mengetahui berbagai informasi terbaru akhir-akhir ini.

Banyaknya perubahan yang terjadi menimbulkan tanda tanya (?) tersendiri bagi masyarakat. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus matowardojo mencoba sedikit menanggapi dengan memberikan berbagai penjelasan tentang perubahan mata uang kali ini melalui wawancara dari berbagai pusat acara berita di Indonesia. Menurut agus saat diwawancarai, uang rupiah baru ini memiliki berbagai macam keunggulan. Yang pertama , selain sebagai alat pembayaran Indonesia yang sah, uang baru ini juga sengaja dirancang agar dapat membantu para tuna netra untuk lebih mengenali nominal mata uang. Uang terbaru ini sengaja didesain dengan huruf braille atau blind code yang lebih menonjol daripada mata uang sebelumnya. Sehingga, akan mempermudah para tuna netra saat akan melakukan transaksi pembayaran serta juga dapat mencegah terjadinya tindakan kriminal seperti penipuan pada orang tuna netra. Yang kedua, baham kertas yang digunakan berbeda dari uang sebelumnya, karena bahan yang digunakan kali ini merupakan bahan yang anti minyak yang mirip dengan bahan mata uang luar negeri seperti dollar Singapura, ringgit Malaysia dan lain sebagainya. Sehingga, mata uang ini tidak mudah kucel atau kotor, tidak mudah rusak, serta juga tahan air yang akan membuat masyaratkat untuk lebih menghargai dan menjaga kondisi uangnya agar tidak dilipat, diremas, dan dicorat-coret.

Selanjutnya banyak kontroversi yang kontra terhadap perubahan gambar mata uang terbaru kali ini, karena gambar-gambar tersebut sangatlah asing di mata masyarakat Indonesia. Hal ini memang sengaja dirancang demikian dengan menggunakan gambar pahlawan-pahlaan baru yang tujuannya sebagai nilai penghargaan sekaligus aspirasi untuk para pahlawan baru yang belum ada di mata uang sebelum-sebelumnya serta agar masyarakat lebih tahu dan mengenal para pahlawan-pahlawan yang tidak pernah mereka lihat atau ketahui sebelumnya. Dan yang terakhir, dibelakang mata uang terbaru ini terdapat gambar tarian-tarian nusantara yang tujuannya untuk pariwisata sekaligus sebagai bahan edukasi agar budaya nusantara tidak mudah diakui oleh Negara-negara lain.

Pada tanggal 19 desember lalu, uang ini pun secara serentak resmi telah diluncurkan diberbagai wilayah Indonesia. Setelah peluncuran mata uang tersebut banyak warga yang berantusias untuk menukarkan uang keluaran sebelumnya dengan uang keluaran terbaru. Banyak sekali tanggapan-taanggapan dari masyarakat setelah menukarkan uangnya. Menurut masyarakat uang terbaru kali ini sangatlah berbeda dari sebelumnya, terlihat lebih modern, dan benar-benar fresh. Hal ini mungkin dikarenakan desain dan tokoh pahlawan yang berbeda dari sebelumnya. Saat ini, Bank Indonesia telah meluncurkan 11 pecahan uang rupiah terbaru. Untuk pecahan kertas, mulai dari Rp 100.000 (terdapat gambar Ir Soekarno dan Moh Hatta), Rp 50.000 (gambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaya), Rp 20.000 (gambar G.S.S.J Ratulangi), Rp 10.000 (gambar Frans Kaisiepo), Rp 5000 (gambar K.H Idham Chalid), Rp 2000 (gambar Mohammad Hoesni Thamrin), dan Rp 1000 (gambar Tjut Meutia). Sementara untuk pecahan logam, mulai dari Rp 1000 (gambar I Gusti Ketut Pudja), Rp 500 (gambar Letjend TNI T.B Simatupang), Rp 200 (gambar Tjiptomangunkusumo), dan Rp 100 (gambar Herman Johannes).

Selain komentar hangat tentang perubahan mata uang terbaru Indonesia tersebut. Ada juga masyarakat yang mengkritisi bahwa mata uang rupiah tetap hadir dalam banyak denominasi alias banyak angka nominal nol-nya. Ini memang sangat jauh berbeda dari mata uang Negara lain, yang hanya menggunakan sedikit angka nol di nominal mata uangnya. Seperti dalam dollar Singapura. Mata uang 1 dollar Amerika saja apabila dipecahkan ke dalam mata uang Indonesia sudah berubah bukan 1 angka lagi, melainkan 7 angka menjadi  Rp 13 433.65. menurut masyarakat dengan nilai angka nol yang sedikit akan memudahkan mereka dalam menghitung jumlah uang dan juga dapat mempersingkat waktu tanpa harus menggunakan kalkulator apabila uang dalam jumlah nilai yang besar.

Namun, berdasarkan informasi terbaru ini Bank Indonesia telah mengusulkan tentang masalah redominasi rupiah dengan memotong 3 digit angka nol seperti Rp 100.000 akan menjadi Rp 100. Langkah tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan transaksi terutama saat berada di nilai jutaan. Meski terdengar lebih nyaman dan ringkas, tapi hal ini membuat orang khawatir dan masih sekadar menjadi wacana. Sebab kebijakan yang demikian justru akan menyebabkan peningkatan devaluasi rupiah.

Dari berbagai tanggapan dan penjelasan tersebut, kita sebagai masyarakat Indonesia harus lebih mencintai dan saling menghargai suatu keputusan yang telah dijalankan bersama Dalam proses pembuatan mata uang ini juga tidak main-main karena tim sudah melibatkan beberapa pihak termasuk budayawan, sejarawan dan alainnya serta sudah dipertimbangkan sejak beberapa bulan yang lalu dan melalui proses penyaringan yang cukup lama. Pemerintah mengharapkan masyarakat untuk tetap menjaga uang terbaru ini dan bisa memahami serta lebih menghargai uang NKRI saat ini sebagai alat pembayaran yang sah serta juga mengabaikan isu-isu negatif dari pemikiran masyarakat lain agar kita tidak mudah terpengaruh terhadap hal-hal buruk yang dapat memecah belah kondisi masyarakat Indonesia.

(Putri Ambarwati, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UMM)




Komentar

Postingan populer dari blog ini

23. Resensi Buku "Kami (Bukan) Jongos Berdasi"

21. Antologi Buku: "Bawa Aku Kembali, Tuhan" dalam Buku The Amazing Me (Ruang Nulis, Agustus 2021)

10. Opini: Perempuan Tonggak Peradaban (Portal Madura 22 Januari 2020)