18. Antologi Buku: Bahagianya menjadi Penulis (Nulis Yuk, Juli 2021)
SELF HEALING DENGAN MENULIS
Awal mulanya adalah dimulai dari kata ‘Cinta’. Aku jatuh
cinta, maka aku menulis. Aku menulis, karena aku jatuh cinta. Kedua parafrase itu
adalah sebuah kalimat yang memiliki hubungan sebab akibat antara kalimat yang
satu dengan kalimat sesudahnya. Bagiku, menulis adalah wujud lain dari sebuah
rasa ‘Cinta’ karena kenyataannya yang membuat aku memulai untuk menulis adalah karena
aku telah jatuh cinta. Jatuh cinta pada buku-buku, jatuh cinta pada membaca,
kemudian berakhir pada jatuh cinta untuk menulis.
Perjalanan panjang yang cukup melelahkan, menghabiskan
banyak malam hanya untuk sekadar bercengkerama dengan satu persatu huruf yang
dirajut menjadi kata dan dirangkai menjadi sebuah kalimat. Berlatih, tertatih
meraih satu persatu kata agar tersusun rapi menjadi sebuah kalimat yang tidak
kehilangan makna sebenarnya. Awal aku menulis adalah karena keegoisan emosi
yang tidak dapat diluapkan begitu saja. Terpendam dalam kesunyian kemudian mencari
jalan keluar untuk bersuara melalui perantara kata.
Bagiku, menulis adalah tentang rasa. Rasa yang berawal
dari kata Cinta yang menjadikan dirinya sebagai alasan kuat untuk memunculkan
huruf demi huruf yang tenggelam agar kembali ke permukaan. Mirip seperti nama
panggilanku, (h)Ambar. Memang hambar rasanya ketika menulis tanpa melibatkan rasa
ke dalamnya, karena memang kenyataannya, rasalah yang membuat manusia tetap dapat
dikatakan layak sebagai manusia. Manusia dapat dikatakan manusia ketika ia
memanusiakan manusia lainnya dengan rasa.
Pada dasarnya setiap orang bisa menulis. Melihat dari
pengalamanku di masa lalu yang tak bisa menulis namun memberanikan menulis hanya
karena berawal dari pelampiasan rasa cinta sekaligus patah hati. Jatuh cinta
dan patah hati dalam kamus ini bukan hanya sekadar cinta monyet, romantisme,
dan broken heart. Namun maknanya lebih luas dari itu. Saat itu anak
remaja sepertiku hanyalah seorang gadis kecil yang belum memahami apa makna
sesungguhnya dari menulis.
Dalam menulis aku lebih suka mengekspresikan
perasaanku dengan menulis puisi. Melalui perantara puisi yang banyak mengandung
kata konotatif, yang membuat orang lain tak mudah mengerti apa arti sebenarnya dari
suara hatiku. Cukup aku saja dan orang-orang yang memiliki darah sastrawan yang
cakap dalam memaknainya.
Aku juga pernah berada dalam fase patah. Patah hati
karena cinta sekaligus karena cita. Sempat mengalami mental illness, sedih,
stress, pikosomatis, dan depresi. Tahun lalu adalah tahun yang berhasil
meremukkanku hidupku. Tahun yang kelam dan tahun yang menenggelamkan tulisan
dan puisi-puisiku. Larut dalam emosi kesedihan yang membuat diri tak ingin dan
tak bisa berbuat apa-apa. Tangan-tangan ini membeku, sedangkan tulisan-tulisanku
menderu. Mendobrak agar aku segera keluar dari kesunyian. Tahun itu adalah
tahun di saat aku kehilangan makna dari arti diriku sebenarnya. Tahun kematian kata demi kata yang aku punya.
Mengendap, kata demi kata itu mengendap dalam diri. Memaksa
keluar namun tak pernah kuizinkan hingga aku cukup lama larut dalam emosi negatif
yang seharusnya aku tak berada di dalamnya. Tahun itu aku memiliki seorang
teman yang juga sama-sama menggeluti dunia menulis. Aku bercerita tentang ragaku
yang hidup namun dengan jiwa yang telah mati, seperti ketika Zainuddin kehilangan
permatanya, Hayati. Kedatangan temanku cukup mirip seperti Bang Muluk dalam
cerita “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” saat memarahi dan memberikan nasihat pada
Zainuddin.
Hal yang membuatku tertampar adalah ketika dia
memberikan nasihat yang mirip sekali dengan salah satu quotes yang sempat kulihat
saat menjelajahi beranda instagram yang bertuliskan “Cinta dan Patah hati itu
energinya luar biasa. Jadi, eman-eman (sayang sekali) kalau tidak dipakai untuk
hal-hal yang kreatif dan positif” (Dr. Fahruddin Faiz). Kata-kata itu membuatku
terpukul sekaligus menjadi string why untuk bangkit dari kematian
kata-kata. Sayang sekali memang, jika disaat kita bisa menulis dan sedang
puitis-puitisnya, lalu berhenti untuk menulis. Harusnya aku bangkit dan mengukir
prestasi.
Lalu aku memutuskan untuk kembali hidup. Hidup dalam
tulisan-tulisanku dan karyaku sebagai bukti pada semesta bahwa Aku Masih Ada. Aku
memilih memutuskan untuk memulai kembali menulis untuk meluapkan emosi yang ada
dalam diriku dan meringankan beban dengan bercerita melalui perantara kata. Setiap
ketikan yang menjalar pada dokumen word putih ini, seperti membuka satu
persatu perban yang membalut luka dalam diri. Namun, tujuannya bukan membuka
luka yang masih basah namun untuk membuatnya cepat mengering.
Tahun ini adalah sebuah perjalanan aku memulai menulis
kembali. Sepanjang perjalanan menulis, aku berusaha untuk hidup kembali baik
jiwa dan ragaku yaitu dengan memanfaatkan dunia menulis untuk self healing dan
memulai kembali self love adalah suatu perjalanan yang melelahkan, namun
suatu saat akan menjadi suatu perjalanan yang mengesankan dan tak terlupakan. Bertarung
dengan diri sendiri untuk bangkit ketika rasanya dunia mulai runtuh dan pundak mulai
rapuh.
Aku kembali hidup dalam sebuah kata. Walau kenyataannya
diri tak setangguh apa yang diutarakan kata. Aku menjadikan ceritaku sebagai
sebuah pelajaran hidup yang berharap takkan pernah meredup. Menjadi cahaya
bagiku dan bagi para pembaca yang saat ini sedang berduka dan berusaha berdamai
dengan masa lalu. Aku harus tangguh dari diriku sebelumnya. Tulisan-tulisanku ini
nantinya akan menjadi teman setia sebagai pengingat sekaligus menjadi tempat
curhat paling abadi yang begitu menenangkan seperti air yang mengalir begitu
derasnya.
“Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya….“
-Al-Baqarah:
286-

Komentar
Posting Komentar