17. Antologi Buku: Bercengkrama dengan Kata "Senandika September" (Ruang Nulis, Januari 2021)
"TEMARAM"
Bagi
sebagian besar perempuan cinta pertama mereka jatuh pada sosok seorang lelaki
yang biasa dia panggil dengan kata “Ayah”. Tapi bagi sebagian perempuan lainnya
mereka bertanya-tanya tentang siapa sosok seorang lelaki yang akan menjadi
cinta pertama dalam hidupnya.
Ada
sebagian orang yang menempatkan sosok seorang ayah sebagai Raja pertama di
singgasana hatinya. Namun, ada sebagian lagi yang menjadikan sosok ayah sebagai
orang pertama yang menggoreskan dan meninggalkan bekas luka untuk pertama
kalinya di hati mereka. Lalu, ada pula sebagian lagi dari mereka yang mencoba
agar terlihat tetap utuh walau pada kenyataannya sedang runtuh di dalam
kehidupan keluarganya.
"Langit,
seburuk-buruknya orang tua. Mereka tetap mendapat sebutan dan tahta sebagai orang
tua. Sekalipun kau ingin membayar mereka dengan memberikan seluruh darah, jiwa,
dan ragamu, itu takkan mampu membayar lunas atas segala jasa-jasa mereka untuk
seorang anak. Orang tua tetaplah orang tua. Dengan baik buruknya masa lalu dan
masa depannya, darahnya tetap mengalir di setiap aliran darah di dalam tubuhmu."
Terdengar nasehat lembut dari sosok perempuan lanjut usia itu sambil menjahit kain
lusuh di tangannya.
"Ibu
tidak membencinya walau lelaki itu telah menanam luka?" Tanyaku dengan
sorot mata penasaran.
"Mengapa
harus benci? Mengapa kita harus merawat luka? Harusnya luka itu ya disembuhkan,
bukan dirawat agar tetap menjadi luka dan membuat diri kita tersiksa dengan
rasa sakit yang ada. Jika hati masih bisa memaafkan dan mengikhlaskan. Pahala
sabar jauh lebih baik dan akan menuaikan kebaikan. Hal yang harus kita lakukan
saat mencintai seseorang ya harus melepaskan orang yang kita cintai karena dia
memang menginginkannya. Bukan dengan mempertahankan karena ego dengan alasan adanya
cinta. Itu namanya obsesi bukan cinta. Untuk apa pula bertahan
jika sudah tidak satu tujuan. Lagipula kita nanti akan ikut bahagia dan damai
karena melihat orang yang kita cintai tersenyum bahagia dengan yang lain walau
itu bukan kita. Itulah sebenar-benarnya cinta." Jawabnya lagi semakin
membuat hatiku bergetar mendengarnya.
Terkadang
aku heran. Mengapa bisa perempuan sekuat itu. Seorang perempuan paruh baya
dengan kedua anaknya hidup dari hasil penghasilan menjahit secara pas-pasan.
Ibu itu adalah tetanggaku. Tetangga di dekat rumahku yang sudah kuanggap
seperti ibu keduaku sendiri karena aku suka sekali mendengarkan kata-kata bijak
dan berbagai nasehat yang keluar dari setiap hembusan napasnya. Beliau tidak
pernah mengajarkan kedua anaknya tentang benci dan dendam pada ayah dari
anak-anaknya. Dia perempuan kuat yang selama ini aku kenal, memiliki hati
seluas langit dan sedalam samudera.
"WAKTU"
Ada
dua waktu yang memberikan dampak tentang beragam kenangan dalam hidup kita. Pertama,
waktu di saat kamu menghabiskan momen dengan orang-orang yang kamu cintai dan
itu telah berlalu. Kedua, waktu ketika kamu mampu menikmati momen dengan orang
yang kamu cintai saat ini.
"Menurutmu
waktu mana yang paling berharga. Waktu yang telah berlalu atau waktu saat ini?"
Tanya Jingga padaku.
"Berbicara
tentang waktu. Baik yang berlalu atau saat ini adalah sama saja. Sama-sama
penting dan berharga, karena kedua waktu itu sama-sama mampu membentuk diri
kita di masa depan. Sama-sama menentukan dengan siapa kita menghabiskan waktu
di masa depan. Dengan orang yang kita cintai, dengan orang yang mencintai, atau
bahkan dengan orang yang memang saling. Dan yang terakhirlah yang memiliki takdir
paling beruntung." Jawabku tersenyum simpul sambil menatap senja di
penghujung langit sana.
"Kau
masih ingat dengan sebuah nasehat bahwa 'waktu itu ibarat pedang, jika engkau tidak
menebasnya, maka ia yang akan menebasmu.' Ingat kan?" Tegasnya padaku,
mencoba mengembalikan pecahan memori dalam ruang ingatanku.
"Emmm,
yups masih. Lalu?" Tanyaku pada Jingga, penasaran dengan maksudnya.
"Emhhh
laluuuuuuuu Langit,..... eh eh eh senjanya mulai tenggelam, ayo Langit kita pulang.
Sebentar lagi maghrib." Potong Jingga tak melanjutkan penjelasannya.
"Lah
lanjutannya gimana?" Batinku menggerutu karena sikapnya.
Kemudian,
aku mencoba mencerna dan memahaminya seorang diri. Tanpa Senja. Aku yang memiliki
pemikiran tentang makna dari suatu Waktu yang sangat berbeda dengan makna sebenarnya.
Lebih tepatnya, aku mencoba menuangkan pemikiranku sendiri, tapi pemahaman yang
aku ciptakan sendiri adalah suatu pemahaman yang merupakan suatu tamparan
keras, khususnya bagi diriku sendiri dan berfungsi sebagai pengingat diri ini.
Jika
waktu adalah pedang, lalu aku tak mampu menggunakan pedang itu. Maka orang lain
lah yang akan mengambil alih pedangnya.
Jadi,
suatu saat akan ada waktu di mana kita menyalahkan diri sendiri karena tak
pandai dalam menggunakannya. Tak mau usaha, tak mau belajar, putus asa, dan
sampai pada titik kata menyerah di tengah peperangan atau mungkin mengaku kalah
bahkan sebelum berperang. Kemudian, jangan sampai menyalahkan orang lain jika
ia lihai dalam menggunakannya (pedang). Sementara kita? Terkadang kita merasa
bergerak tapi nyatanya hanya tetap diam di tempat. Lalu menyadari, bahwa yang
paling penting adalah bagaimana cara kita dalam memanfaatkan waktu yang ada,
waktu yang kita miliki saat ini, entah sendiri ataupun bersama dengan
orang-orang terkasihi.
BIODATA
Putri Ambarwati adalah
salah satu mahasiswa UMM yang suka menulis. Beberapa karyanya telah diterbitkan
di berbagai media massa, baik cetak ataupun online. Baginya, menulis adalah
perantara dirinya mengekspresikan hal yang tak mampu diungkapkan secara lisan
dan sebagai ladang dakwah agar bisa menjadi perantara hidayah untuk orang lain
yang membaca karya-karyanya.

Komentar
Posting Komentar