16. Cerpen: Ujian Tanda Cinta (Rahma.Id, 27 Juli 2020)
“UJIAN
TANDA CINTA”
~Katanya,
Tuhan menguji seseorang melalui dengan kehilangan sesuatu atau orang yang
paling dicintai hambaNya. Entah itu dengan kepergiannya yang hanya sementara
atau bahkan selamanya~
…
Kemarin
pagi, sekitar pukul setengah 10 tepatnya. Aku melihat seorang anak lelaki yang
masih duduk di bangku kelas 4 SD itu sedang asyiknya berlari-lari dan bermain
bersama teman-temannya. Sempat ku bertegur sapa dengan anak lelaki yang biasa
dipanggil dengan sebutan Dimas itu. Ah, rupanya ada sedikit penyesalan karena
di waktu itu aku sempat menegur tentang kenakalannya yang membuatku sedikit
menyesal karena kenyataannya mustahil aku ketahui bahwa akan ada takdir lain juga
yang bertegur sapa dengan dirinya hari ini.
Sejak
malam tadi anak lelaki itu sudah mengeluh kesakitan di bagian dadanya, terutama
di bagian sebelah kiri. Anak pertama dari dua bersaudara itu tak henti-hentinya
merengek kepada ibunya.
“Ibu,
dadaku sakit. Kayak sesak gitu loh bu.” Ucapnya kala itu sambil menekan dadanya
yang terasa sakit.
“Apaan
sih nak, jangan berlebihan gitu deh. Paling itu cuma sakit biasa. Tidur saja
dah, besok palingan ilang sendiri seperti angin berlalu.” Balas Ibu Dimas yang berusaha
menenangkan anaknya diselingi dengan sedikit candaan.
Malam itu ia hanya tidur berdua
dengan Ibunya. Sedangkan ayah dan kakeknya sibuk bekerja mengeringkan keringat
di tengah gemuruhnya ombak di lautan. Iya, dia berasal dari keluarga nelayan
yang cukup disegani di lingkungan rumahnya karena kebaikannya pada tetangga dan
kerabat sekitarnya. Desiran ombak selalu setia menjadi lagu pengantar tidur menemani
ibu dan anak itu hingga mereka terlelap. Kecuali pada jam-jam tertentu anak
lelaki itu berusaha untuk tetap terlihat kuat sembari menahan rasa sakit di
dadanya.
Angin malam kala itu mengusap lembut
raut wajah tampan anak lelaki itu, membelainya dingin seolah meminta dia
tertidur di pangkuannya. Namun apalah daya, hingga azan shubuh pun tiba, anak
itu tak kunjung dapat tertidur dengan nyaman. Kini, dia semakin merasakan sakit
itu dengan begitu hebatnya. Seakan menghirup udara seperti memasukkan serbuk
duri melalui hidung yang menjalar masuk ke sistem pernapasannya. Bagaikan tertusuk
jarum perlahan-lahan dan sakit yang membunuh perlahan-lahan.
“Ibu,
ibu, sudah shubuh bu. Waktunya sholat.” Katanya lirih sambil mencoba
membangunkan ibunya. Lagi, lagi ia menahan rasa sakit yang dirasakannya.
“Hah,
iya Mas, Ibu bangun.” Ucap ibu sambil berusaha membuka matanya.
Saat
itu ibu dan anak itu masih sempat melakukan sholat shubuh bersama-sama. Hingga di
akhir sholat, kini Dimas tak lagi bisa menahan rasa sakit di depan ibunya.
“Ibu,
dadaku semakin sakit, sesak. Aku semakin kesulitan untuk bernafas.” Ucap Dimas
sambil terengah-engah.
Seketika itu juga ibunya mulai panik,
ia mulai berteriak memanggil tetangganya untuk mengantarkan dirinya dan Dimas
ke puskesmas terdekat. Tanpa berpikir panjang, tetangganya pun bergegas memberikan
tumpangan dan membawanya ke puskesmas. Sesampainya di puskesmas, diapun langsung
mendapatkan perawatan dengan dipasangkan alat bantu sistem pernapasan ke bagian
hidung dan mulutnya. Dari pagi hingga siang hari, masih belum terlihat adanya
perkembangan yang membaik pada kondisi Dimas. Hingga tabung oksigen pernapasannya
pun habis.
Saat itu, salah satu perawat
puskesmas mencoba mengganti tabung oksigen yang sudah habis dengan tabung yang
baru. Pada waktu itu terpaksa alat pernapasan yang terletak pada hidung dan
mulut Dimas dilepas sementara. Sedangkan keluarga Dimas yang lainnya, disibukkan
dengan mengurus surat rujukan agar bisa membawa Dimas ke rumah sakit di kota yang
lebih lengkap peralatan medisnya.
Kondisi Dimas semakin parah, ia
menampakkan bibirnya yang dikit demi sedikit mulai membiru dan juga napasnya
yang mulai terengah-engah bak ikan yang dibiarkan begitu saja di atas daratan yang
merindukan adanya setetes air masuk ke bagian rongga insangnya. Namun, perawat
pihak puskesmas hanya mengentengkan keadaan tersebut dan berkata.
“Sabar
dulu ya pak, ini masih diproses. Kami disini tidak hanya mengurus satu pasien
saja pak.” Ucap salah seorang perawat tersebut pada seorang lelaki separuh baya
yang merupakan Paman dari Dimas.
Paman Dimas pun hanya mengiyakan
dengan menahan amarah dan kekesalannya. Dia merasa geram terhadap pelayanan puskesmas
di desa itu. Hingga akhirnya waktu terus berjalan. Setiap detik bagi kita yang
masih dianugerahi kesehatan adalah tiap detik yang memang biasa saja digunakan
untuk bernapas. Akan tetapi tiap detik yang berputar di dunia anak lelaki itu
adalah hal yang sangat berharga untuk memenuhi rongga paru-parunya dengan adanya
sedikit udara. Lalu ditarikan napas yang begitu panjang, ia pun menghembuskan napas
untuk terakhir kalinya karena dirinya telah lelah dan tubuhnya yang kecil telah
begitu lemah untuk terus berusaha seorang diri mencari udara untuk bisa bernapas.
Siang menjelang sore hari itu, jerit
seorang ibu dan para perempuan yang menjadi saksi kini pecah memekakkan telinga
seluruh area puskesmas sebagai tanda kehilangan dan ketidakrelaan melepas
kepergian yang tak pernah diduga dan disangka-sangka sebelumnya. Anak lelaki
itu kini dapat tertidur lelap dengan nyaman dan tenang. Ia tak lagi tersiksa
dengan dadanya yang sesak. Ia tak lagi mengeluh tak bisa tidur karena sulitnya
bernapas. Ia tak perlu lagi terjaga sepanjang malam. Ia kini dengan tenang tertidur di pangkuan
Tuhannya.
---
Terkadang,
manusia diuji melalui kehilangan. Entah itu kehilangan sesuatu atau kehilangan
seseorang yang paling dicintainya. Mungkin karena Allah sedang cemburu pada
hambanya yang terkadang mulai menjaga jarak dengannya. Atau mungkin cemburu
karena hambanya terlalu berlebihan dalam mencintai sesuatu. Atau mungkin juga
Allah sedang rindu-rindunya mendengarkan kembali celotehan dari hambanya yang
dulu selalu bercerita, berkeluh kesah, dan bermunajat hanya kepada diriNya. Lagi-lagi
ujian itu tanda cinta. Allah menguji hambanya karena ia cinta pada hambanya. Dan
hamba yang mengaku cinta pada Tuhannya, tentunya akan diuji juga untuk tahu
seberapa besar kecintaannya pada Tuhannya.
Ujian
itu tanda cinta. Kenyataannya manusia akan diuji dengan dua hal sebagai pembuktian
tanda cintanya kepada Tuhannya yaitu dengan didatangkannya musibah atau kenikmatan.
Agar Tuhan tahu, ketika manusia mendapat nikmat akankah dia bersyukur dan tetap
mengingat diriNya ataukah dia kufur kepada Tuhannya.
Dan
Ketika dia mendapatkan musibah, akankah ia senantiasa bersabar dan ridha terhadap
apa yang ditakdirkan padaNya ataukah ia menentang segala ketetapanNya. Begitulah
caranya, begitulah tanda cintanya. Cinta dariNya pada hambanya. Dan cinta hambanya
kepada diriNya.
Memang
benar ucap salah seorang gadis kala itu, bahwa:
“Hal
yang paling menyakitkan dari merindukan seseorang bukanlah karena jarak.
Tetapi
ketika kau dekat dan berada di sampingnya.
Namun
tak dapat kembali kau tatap raut wajahnya dan mendengarkan kembali cerita dari
lisannya.
Selamanya…”
Dan
waktu itu adalah waktu penyesalan pertama seumur hidup karena suatu
keterlambatan dan waktu yang disia-siakan. Harapnya, semoga takkan terulang kembali.
Pamekasan, 10 Juni
2020
Putri
Ambarwati
Pendidikan
Bahasa Indonesia
Universitas
Muhammadiyah Malang
https://rahma.id/author/putri-ambarwati/

Komentar
Posting Komentar