15. Puisi: Perempuan dan Tjinta Putih (Rahma.Id, 14 Juni 2020)


 PUISI

-PEREMPUAN DAN T(J)INTA PUTIH-

 

“Aku tak butuh apa-apa.

Cukup sisakan aku selembar kertas kosong.

Berwarna hitam mencekam dan tinta putih.

Lalu, biarkan jari-jemari ini merajut cinta.

Hingga menenggelamkanku pada rentetan kata. “

Ucap perempuan gila itu.

Ini adalah pertama kalinya ia berani angkat bicara.

Kata demi kata yang ia ukir.

Takkan mampu lagi terbaca.

Takkan bisa dipahami.

Takkan pernah tersentuh.

Oleh mereka, para pendosa.

 

Seperti pada kata “menyesal“

Seperti itu pula kata demi kata ini ditulis.

Pada setiap halaman kosong hitam kelam.

Mencerminkan kehidupannya yang jauh dari kedamaian.

 

“Tenggelam. Tenggelamkan aku dalam lautan Samudra tinta putih itu.

Tidak… tidak…! Aku………..“

 

Dengan lirih ia berkata.

Namun tak lagi mampu mengeluarkan suara.

Perempuan itu menangis.

Hatinya seperti sedang teriris, tipis demi tipis.

Tapi, lagi lagi ia tak memahami apa yang sedang ia tangisi.

Tubuhnya mulai hitam membiru.

Sementara hatinya memutih penuh.

Lantaran ditenggelamkan dalam lautan tinta putih yang ia ciptakan.

Tenggelam hingga ke dasar lautan.

 

Perempuan itu merindukan setitik cahaya terang.

Cahaya yang akan memandunya menuju Sang Penguasa Samudra.

Lalu, di titik terdalam hati putihnya ia berbisik.

Mewakili lisannya yang terkunci rapat.

 

“Aku…….. aku ingin kembali ke permukaan.“

 

Putri Ambarwati

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia

Universitas Muhammadiyah

https://rahma.id/perempuan-dan-tjinta-putih/

https://rahma.id/author/putri-ambarwati/



 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

23. Resensi Buku "Kami (Bukan) Jongos Berdasi"

21. Antologi Buku: "Bawa Aku Kembali, Tuhan" dalam Buku The Amazing Me (Ruang Nulis, Agustus 2021)

10. Opini: Perempuan Tonggak Peradaban (Portal Madura 22 Januari 2020)