14. Cerpen: Hati yang Runtuh (Rahma.Id, 11 Juni 2020)
(H)ATI YANG
RUNTUH
“Lantas kau akan memilih yang mana?” tanya lelaki
separuh baya itu.
“Yang paling baik agama dan akhlaknya pak.” Jawab
gadis berkulit gula jawa itu.
“Bahkan ketika kau tak mengenal dan mencintainya?”
tanya lelaki itu, ingin memastikan.
“Iya pak.” Ucap gadis itu, singkat.
“Yakin nduk? Tidak mau dipertimbangkan lagi?
Rumah tangga tanpa adanya cinta dan kasih sayang. Nanti akan bagaimana jadinya?”
kata bapak berusaha meyakinkan agar Ati tidak salah dalam mengambil keputusan.
“Keyakinan pak. Keyakinan dan kepercayaan yang
menguat dalam hati Ati. InsyaAllah kalau lelaki itu mencintai Ati karena Allah
dan dia memang benar-benar mengenal Allah. InsyaAllah, Ati akan mengenal dan
mencintai dia juga karena melihat kecintaannya pada Allah. Bukan cinta antar
sesama manusia yang membuat hati Ati luluh pak, tapi saat melihat lelaki yang
mencintai Allah-lah yang mampu meluluhkan hati Ati." Tegas Ati. Kokoh mempertahankan
pendiriannya sejak awal.
.
Ati,
masihkah kau mempertahankan keyakinanmu yang dulu?
.
Tiga bulan kemudian…
“Beruntung ya mbak, mbak bisa menikah dengan
orang yang mbak cintai dan mencintai mbak.” Ucap Ati pada perempuan yang baru
saja menikah kemarin sore itu.
“Lah kan kita nikah sama orang yang kita cintai
dan mencintai kita Ti. Emang kamu maunya gimana?” Balas Mbak Nur pada Ati.
“Dulu, aku merasa tak apa jika akan menikah
dengan orang tidak aku cintai. Asalkan lelaki itu bisa mencintai Tuhanku dan
mencintaiku dengan baik, maka kupikir rasa itu akan tumbuh dengan sendirinya karena
kepercayaan
bahwa siapa yang menikah karena Tuhannya. Maka Allah lah yang akan menumbuhkan
rasa itu nantinya. Hemmmm tapi, seiring
dengan berjalannya waktu. Tapi tambah kesini, kok hati Ati tambah gak karuan
gini ya mbak.” Tutur Ati menceritakan tentang kegoyahan prinsipnya yang mulai rapuh.
“Kok jadinya ragu gitu? Kenapa?” tanya mbak
Nur, penasaran. Ia tau betul tentang pribadi Ati seperti apa. Betapa kokohnya
dia dengan apa yang dia pegang teguh dan tak mudah tergoyahkan. Kecuali jika
memang ada penyebabnya. Tidak mungkin ada asap jika memang tidak ada api.
“Aku pernah mendengar kisah temanku yang saat
itu dia akan dijodohkan dengan seorang lelaki yang merupakan putra dari sahabat
ibunya. Saat itu aku sebagai seorang pendengar dan temanku berkata ‘aku ingin
menikah dengan orang yang aku cintai Ati dan dengan orang yang juga mencintaiku.
Aku tidak ingin berumah tangga tanpa adanya rasa cinta layaknya kedua orang
tuaku yang dulu juga dijodohkan. Apa jadinya nanti kehidupan rumah tanggaku tanpa
adanya kehangatan cinta?’ Curhatnya padaku sambil meneteskan air mata. Lalu
aku hanya bisa diam, saat itu aku tidak tau harus berkata apa. Sebegitu
menyakitkan kah rasa cinta itu ada. Rasanya aku tidak ingin merasakannya jika pada
akhirnya membuat orang lain harus terluka. Termasuk melukai diri sendiri. Lalu disaat
itu keyakinanku mulai rapuh. Haruskah aku menikahi seorang lelaki yang tidak
aku cintai atau haruskah aku berdiam diri dan menunggu sampai waktu membuatku
jatuh hati pada seorang lelaki yang tak ku ketahui dia akan menjadi jodohku
atau bukan? Aku sedikit bimbang tentang jalan yang akan kupilih.” Jelas Ati panjang
lebar kepada mbak Nur.
“Kau tau Ati? Kebanyakan orang berdoa agar ia
menikahi orang yang dia cintai.” Kata mbak Nur pada Ati.
“Iya mbak Nur. Semua orang pasti berharap dan
mengimpikan agar dia menikah dengan orang yang dia cintai saat itu.” Jawab Ati
“Lantas kau tau doa dalam kisah Zeest sebelum
dia bertemu Aariz?” tanya Mbak Nur lagi.
“Hemmm iya aku masih ingat. Zeest dengan rendah
hati berdoa dan meminta pada Tuhan agar dia mencintai orang yang dia nikahi
nantinya.” Jawab Ati antusias.
“Kau tau dibalik alasan mengapa Zeest berdoa seperti
itu?” Tanya mbak Nur.
“Tidak tau. Mungkin dia ingin mencintai
suaminya saat itu.” Jawab Ati ala kadarnya.
“Zeest berdoa seperti itu karena ia tau bahwa
orang yang kita cintai saat ini. Belum tentu akan menjadi orang yang kita
nikahi nantinya. Lalu dia meminta pada Tuhan agar dia mencintai seseorang yang
telah menjadi suaminya nanti. Seseorang yang telah pasti mempersuntingnya sebagai
seorang permaisuri yang akan menjadi satu-satunya Ratu di hatinya. Karena dia
tidak ingin hatinya patah untuk suatu hal yang akan menjadi kenangan di masa
lalu. Kalau kata Sujiwo Tedjo sih ‘Menikah itu nasib. Mencintai itu takdir.
Kau bisa berencana menikahi siapa. Tapi tak dapat kau rencanakan cintamu untuk
siapa.’ Begitulah kata-kata bijak darinya.” Ucap mbak Nur menjelaskan
dengan perlahan-lahan.
“Lalu boleh tidak aku juga berdoa dan meminta pada
Tuhan?” tanya Ati dengan nada memelas.
“Boleh. Apa yang ingin kau pinta?” tanya balik mbak
Nur pada Ati.
“Doaku berbeda dengan kebanyakan orang. Berbeda
pula dengan doa Zeest sebelum bertemu Aariz. Aku dengan rendah diri dan rendah
hati meminta dan memohon pada Tuhan, agar aku menikah dengan orang yang aku
cintai dan mencintaiku. Yang orang itu sudah pasti akan menjadi pasangan hidupku
nantinya. Di dunia dan juga akhirat. Aku ingin meminta agar Tuhan mempertemukanku
dengan jodoh terbaik menurut pilihanNya, yang ia menjadi pilihan hatiku juga. Sesederhana
itu saja. Jadi aku tidak harus lagi mempertahankan keyakinan bahwa aku akan
menikah dengan seorang lelaki yang tidak aku cintai walaupun dia mencintaiku kan?
Aku merindukan kehangatan di dalam sebuah keluarga karena adanya cinta.” kata
Ati penuh harap sambil menatap langit yang ditaburi oleh ribuan bintang berkilauan
dan pantulan cahaya rembulan yang terlihat indah disorotan kedua bola matanya yang
hitam kecoklatan.
Putri Ambarwati
Pendidikan Bahasa
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang
https://rahma.id/hati-yang-runtuh/
https://rahma.id/author/putri-ambarwati/

Komentar
Posting Komentar