12. Puisi: Kode dari Tuhan (Malang Post, Februari 2020)
PUISI
Kode dari Tuhan
Kemarin aku ceritakan
pada Tuhan.
Tentang bunga yang
tumbuh di depan pagar.
Bunga yang cantik,
tanpa tanda ada yang memiliki.
Aku bercerita pada
Tuhan.
Tentang aku yang
memuja dan ingin memiliki bunga Putih itu.
Tapi Tuhan hanya diam,
tak ada jawaban.
Yang tertinggal hanya
tatapan tajam.
Aku pupuk dan sirami
bunga itu sampai tumbuh menjulang.
Semerbak wangi tercium
ke orang-orang.
Tak hanya pada orang
yang bertopeng.
Tapi juga pada orang
yang berlalu lalang.
Ku rawat bunga dengan
sabar tanpa rasa gelisah.
Hingga akar tertancap
kuat dan merasuk ke tulang belulang.
Tersenyum riang aku
bercerita kembali tentang dia pada Tuhan.
Sambil menggenggam
erat seikat bunga itu di tanganku.
Dan berceloteh tentang
keinginan dan cinta yang telah sampai ke akar.
Kali ini rupanya Tuhan
tak tinggal diam.
"Kau melangkah
terlalu jauh. Lepaskan bunga itu dari genggamanmu sekarang!"
Kata Tuhan dengan tegas
padaku.
Aku tak paham apa
maksudnya saat itu.
Hingga sampai di suatu
waktu.
Aku menyadari bahwa
bunga itu adalah mawar yang berduri.
Ah sakit rasanya,
tangan terluka karena duri-durinya.
Tapi tetap saja
kugenggam erat karena ‘Aku Cinta’
Hingga di suatu akhir.
Seseorang datang dan
berkata bahwa ia pemilik asli bunga itu.
Seketika tangan yang
menggenggam bunga kini terlepas.
Darah mengucur turun
tanpa batas.
Diri bak terhempas
melawan angin.
Bukan karena melepas.
Tapi karena kode dari
Tuhan yang tak kubalas.
Kini aku ikhlas
merawat luka dari duri-duri itu.
Berusaha ikhlas
melepas mawar yang tak lagi berwarna putih.
Karena tinta merah telah
mewarnai kelopaknya.
Sebagai tanda bahwa
aku benar-benar melepas.
Melepas cinta dan juga
luka yang ia bawa pergi bersamanya.
Kisah Usang
Tak ada lagi cerita.
Tak ada lagi kisah.
Tak ada lagi yang
didongengkan.
Karena aku yang
memintamu untuk menutup lembaran-lembaran itu lebih dulu,
sebelum kau sempat
menyelesaikan bacaannya.
Tak ada lagi canda
tawa.
Tak ada lagi merajuk.
Tak kan ada lagi
kehangatan.
Karena aku yang
memintamu mengulang kembali sebuah kisah,
dengan rasa yang lebih
dingin dari biasanya.
Tak ada lagi kata
dekat.
Tak ada lagi kata
akrab.
Tak ada lagi kata yang
terucap untuk memperlama ruang obrolan.
Karena pada
kenyataannya ada dinding pembatas,
yang tak dapat
kutembus seorang diri.
Dan dirimu, adalah
salah satu dari mereka.
Salah satu pekerja
yang sedang memperkokoh mendirikan dinding itu.
Jadi, bagaimana kau
akan mempersilakanku untuk masuk?
Jika kenyataannya aku
terlambat datang sebagai tamu.
Dan dirinya, telah kau
bukakan pintu lebih dulu dan kau persilakan masuk.
Nyatanya,
Yang membedakan
hanyalah waktu.
Dia yang lebih dulu
datang dalam duniamu.
Dan aku yang terlambat
hadir tuk mengajakmu memulai menulis sebuah cerita denganku.
Kini…
Biarkan aku membuka
lembaran baru, untukmu dan diriku.
Tapi di dalamnya,
masih adakah tokoh aku dan kamu?
Atau, yang ada
hanyalah kamu dan dirinya?
Yang pasti aku tak
ingin ada ketiganya.
Aku, kamu, dan
dirinya.
Silakan mulailah
memilih cerita apa yang kau inginkan.
Karena adanya tokoh
dan akhir cerita yang seperti apa, tergantung dari pilihanmu.
Karena aku hanyalah
seorang penulis.
Penulis cerita Tuan-tuannya
yang hanya duduk diam.
Tuan yang sigap
memerintah, dan membayar setiap tetes tinta hitamku.
Sedangkan aku
ditenggelamkan dalam setiap gerak langkah pena darimu...
Menunggu
Tuan Datang
Wahai Tuan…
Kapan kau datang?
Ketika gelisah sampai ke akar.
Dan jantung tak lagi beralun mengeluarkan
nyanyiannya yang merdu.
Disaat itukah kau akan datang?
Wahai Tuan...
Jika saat ini kau disibukkan dengan dirinya,
perempuanmu.
Dan aku yang menulis segala sesuatu tentang
dirinya, tentunya bukan lelakiku.
Karena kenyataannya lelaki ku sejak awal adalah
dirimu.
Masihkah kita
disibukkan dengan hal semacam ini?
Wahai Tuan...
Jangan tanyakan seberapa banyak tamu yang
membuat hatiku luluh.
Sementara disaat banyak tamu yang datang, di
hatiku hanya ada Tuan seorang.
Percayalah, Tuan adalah penghuni tetap jiwa ini.
Yang dikenal hati tapi tak tertangkap oleh mata.
Wahai Tuan…
Maafkan daku, karena tak pandai menjaga pintu.
Membuka ruang bagi para
tamu yang datang.
Yang tanpa ku tahu
mereka hanya sekadar singgah.
Bukan untuk menetap.
Wahai Tuan…
Masa lalu mu adalah milikmu
Masa lalu ku adalah milikku
Dan masa depan adalah milik kita.
Jangan ceritakan masa lalu mu yang akan
membuatku cemburu layaknya Bunda Aisyah.
Aku pun tak ingin bercerita panjang lebar.
Karena memang
percintaanku rasanya selalu hambar, tanpa rasa.
Wahai Tuan…
Kapan kau akan datang?
Suatu saat.
Jadikanlah aku sebagai tempat tujuanmu datang.
Dan aku pula yang kau jadikan alasan,
Sebagai tempatmu untuk kembali
pulang.
Putri Ambarwati
Pendidikan Bahasa Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang

Komentar
Posting Komentar