11. Cerpen: Antara Cinta dan Keyakinan (Suara Muhammadiyah, April 2020)
“Cinta VS
Keyakinan”
Nyatanya aku
harus menjauh.
Bahkan kepada
hati yang berhasil membuatku luluh.
_Ati_
Saat itu
ada seorang lelaki yang berusaha mendekati Ati. Tapi ia tak menghiraukannya,
karena tau maksud dari segala tingkah lelaki itu. Ibu Ati dan Bapak Ridwan
selalu menjodoh-jodohkan Ati dengan lelaki yang dikenalnya. Lelaki itu bernama Dimas.
Mereka tak pernah tau bahwa hati anak gadisnya ini sudah ditawan oleh hati lelaki
lain rupanya. Sudah empat tahun lamanya ia menyimpan rasa pada seorang lelaki
yang juga dekat dengan Ibunya itu. Namun apalah daya seorang perempuan, ia tak
berani mengatakannya dan hanya bisa menyimpannya dalam diam tanpa suara.
“Dimas itu
anak yang baik. Sabar. Gak banyak maunya. Ramah dan mudah bergaul. Dia ingin mengenalmu
lebih jauh. Menjadi teman dekatmu.” Ucap Ibu pada Ati sambil membangga-banggakan
Dimas.
“Kami sudah
saling mengenal bu, kami pun sudah saling berteman baik. Menurutku belum
saatnya untuk mengenal seorang lelaki lebih dekat dari biasanya. Semua masih
membutuhkan batasan. Dan juga waktu.” Balas Ati datar pada pernyataan ibu.
“Kamu sudah
cukup umur. Sebentar lagi kuliahnya selesai. Sudah saatnya untuk membuka hati
dan tidak berdiam diri seperti ini.” Kata ibu pada Ati yang khawatir jika putrinya
nanti menikah di umur yang tak lagi muda.
“Aku masih perlu
waktu untuk berpikir bu. Beri aku waktu untuk mempertimbangkannya.”
Nyatanya
saat itu hatinya sedang berkecamuk. Hati yang sedang berperang dengan pikirannya.
Ia berpikir keras bahwa bagaimana mungkin ia menerima dan menjalin hubungan
dengan seorang lelaki yang kenyataannya juga disukai oleh teman dekatnya, Ratih.
Ia bisa saja membuka hatinya pada Dimas, akan tetapi hal itu merupakan pantangan
baginya, ia tak bisa menjatuhkan hati pada seseorang yang telah disukai sahabatnya
itu. Teman macam apa namanya yang tega bersenang-senang di atas penderitaan sahabatnya.
Lagi pula, rasa memang tidak bisa dipaksa. Nyatanya ada orang lain yang telah
mendiami hati Ati terlampau lama.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Iya, dia adalah
seorang lelaki yang telah lama ia kagumi dalam diam. Namanya Ridwan. Lebih tepatnya
ia memanggil dirinya dengan sebutan Mas Ridwan. Seorang lelaki yang dua tahun lebih
dewasa darinya. Ia tinggal dengan bapaknya yang bersebelahan dengan rumah baru Ati.
Anggap saja tetangga dan memang begitulah. Ati sudah sangat dekat dengan Ridwan
sejak hari pertama ia pindah. Saat itu Ridwan membantu Ibu Ati untuk memasukkan
barang-barang ke dalam rumah. Bagi kedua orang tuanya, mereka sudah seperti sepasang
kakak adik. Saling menjaga satu sama lain, melindungi, dan berbagi rasa sakit. Padahal
ada rasa yang berbeda di hati salah satu antara mereka, Ati. Tapi lagi-lagi
tidak ada yang menyadari bahwa rasa itu mulai tumbuh di antara mereka. Rasa yang
tak biasa.
Mereka
telah banyak menghabiskan waktu bersama. Ati pikir, dia adalah satu-satunya perempuan
yang dekat dengan Ridwan dan tau segala hal tentangnya. Kenyataannya tidak. Tanpa
Ati ketahui, Ridwan sudah lama menjalin hubungan istimewa dengan perempuan lain
(baca: pacar). Ati yang mengetahui hal itu seketika terkejut, tak menyangka
bahwa Ridwan yang ia kenal sebagai seorang lelaki religius, akan memilih jalan pacaran
untuk menentukan pasangan hidupnya. Selama mengenal Ridwan, Ati tau betul bahwa
dia bukan tipekal lelaki yang seperti itu.
“Jadi mas sudah
resmi menjalin hubungan dengan perempuan itu? Sejak kapan?” tanya Ati penasaran.
“Ah itu sudah
lama. Setahun sebelum kamu pindah ke tempat ini.” Jawab
Ridwan santai.
“Aku pikir
mas beda dengan lelaki lainnya. Mau menjaga diri dan gak mau pacaran sebelum
akad.” Balas Ati dengan nada sinis.
“Hehhhh aku
gak sepolos itu juga kale. Aku juga normal, aku ini laki-laki. Gapapa dong
kalau aku suka sama cewek. Kamu kenapa sih tiba-tiba sensi gitu? Lagi PMS ya Ti?”
Jawabnya sambil berbalik tanya sekaligus bermaksud menggoda Ati.
“Cinta sih
cinta mas. Tapi cara mas mengekspresikan cinta itu sendiri yang salah. Dan Ati
gak suka itu.” Balas Ati dengan sedikit nada sinis menandakan ketidaksukaannya.
“Hayoo gak
suka atau kamunya aja ya yang cemburu nih? Takut nanti gak punya teman main lagi
kalau aku udah punya pasangan? Hahahahaha.” goda Ridwan sambil tertawa memperlihatkan
giginya yang berjejer rapi.
“Enggak sih.
Biasa aja. Bukan hal itu yang aku permasalahkan mas. Aku kecewa aja sama mas.
Mas sudah banyak datang ke berbagai kajian di kota ini kan? Mas tau kan gimana
hukumnya pacaran dalam Islam? Zina mas. Zina. Masih ingat makna dalam surat Al-Isra’
ayat 32? Allah gak suka perbuatan itu mas.” Papar Ati dengan raut muka yang tak
mengenakkan.
“Aku tau
kok. Tapi kamu gak tau kan kalau gaya pacaranku beda dari yang lain? Kita tau batasan
dan mas bisa jaga diri.” Balas Ridwan mengelak nasihat Ati.
“Emang ya kalau
nasehatin orang yang lagi menderita penyakit ‘isyq (jatuh cinta) kayak gini. Rasanya
seperti menyorot cahaya ke depan cermin. Sekeras apapun kita nyorotin cahaya ke
cermin itu, pasti cahayanya mantul lagi dan lagi. Gak akan pernah bisa nembus cermin
itu. Ati sayang sama mas. Mas sudah Ati anggap seperti abang Ati sendiri. Seorang
adik yang sayang sama abangnya, gak bakalan diem aja disaat ngeliat abangnya di
jalan yang salah.” Ungkap Ati dengan hati teriris karena cemburu, kecewa, dan
sakit hati.
“Lalu selama
ini kemana aja ilmu yang udah mas dapetin dari kajian-kajian yang mas datengin di
masjid-masjid itu? Ilang gitu aja? Atau mas timbun di dalam tumpukan buku-buku
mas itu? Allah gak menghukum orang yang gak tau mas, tapi Allah gak suka sama
orang yang gak mau tau. Apalagi sama orang yang udah tau, tapi dia berpura-pura
gak tau. Aku gak mau Allah marah dan menegur mas secara langsung. Lebih baik
Ati yang bertindak lebih dulu.” Lanjutnya. Kali ini Ati tenggelam dalam kemarahan
dan kekecewaan yang teramat dalam. Sedalam rasa cinta dan sakitnya yang terpendam
selama ini.
“Cukup Ati.
Aku gak suka kamu yang ngegas kek gini. Aku gak suka kamu sok nasehatin aku
kayak gini. Oke aku akui kalau aku emang cowok yang gak baik. Terus kenapa kamu
mau bertahan temenan sama cowok yang gak baik kek aku gini?” Bentak Ridwan tak
terima dengan cara penyampaian Ati yang seperti itu.
“Maaf mas,
Ati tak bermaksud seperti itu.” Ucap Ati dengan suara parau, mencoba menahan
air matanya agar tidak jatuh di pipinya.
Pertemuan sore
itu adalah pertemuan yang berbeda dari biasanya. Dengan suasana tegang dan tak secerah
seperti hari-hari kemarin. Hujan dan bunga mawar putih menjadi saksi bisu perdebatan
mereka di teras rumah Ridwan. Hujan yang mendinginkan suasana, lantas tak dapat
mendinginkan hati mereka berdua yang kian memanas. Ada dua tatap yang beradu seakan
mengedepankan ego masing-masing. Lalu panggilan bapak Ridwan menghentikan
lamunan sekaligus menutup pembicaraan di antara mereka yang saat itu tak
kunjung dingin.
“Ridwan… Ati…
Ayo masuk ke rumah. Bapak buatin salad buah kesukaan kalian. Cepat kesini!” Panggil
bapak Ridwan dari dalam rumah.
“Iya pak bentar
lagi.” Balas Ridwan untuk mengiyakan panggilan bapaknya.
“Ayo masuk.”
Ajak Ridwan kepada Ati.
(mereka berdua pun masuk ke dalam rumah)
“Nah… ini
nih salad buah kesukaan kalian. Ayo dimakan. Jangan rebutan seperti biasanya,
kayak kucing sama tikus aja, kerjaannya tengkar terus.” Kata Bapak pada mereka berdua.
“Apaan sih pak.”
Sanggah Ridwan sambil mengambil mangkok untuk tempat salad.
“Oh iya
gimana Ati kelanjutannya kamu sama Dimas?” tanya bapak.
“Biasa aja
sih pak.” Jawab Ati datar.
“Sebenarnya
kamu kenapa sih nduk kok banyak nolak cowok-cowok yang mau kenalan sama kamu? Kamu
loh sebentar lagi lulus, embok yo sambil nyari. Perempuan itu gak baik kalau
menunggu terlalu lama. Emmm, jangan bilang kalau kamu sebenarnya takut jatuh
cinta terus takut patah hati ya?” tanya bapak Ridwan mencoba menggali informasi
agar Ati sedikit terbuka padanya. Namun, Ati hanya bisa tersenyum datar mendengar
ucapan itu.
“Saya tau
saya berasal dari keluarga yang tidak utuh. Tapi bukan karena itu alasan saya
menolak banyak lelaki yang datang mengetuk pintu. Saya ingin menjadikan suami
saya sebagai lelaki satu-satunya yang berhak menerima cinta dari saya seutuhnya
pak. Saya tidak ingin jatuh cinta sebelum waktunya, jika hari ini saya mencintai
seseorang dan menjalin hubungan dengannya. Lalu ternyata kita tak berjodoh.
Lantas apa yang akan suami saya dapatkan? Saya tak ingin dia hanya mendapatkan
raga saya, namun tidak dengan hati saya. Padahal, ia sudah berani memikul
tanggung jawab atas perempuan asing yang baru ia kenal ini. Jadi itulah mengapa
saya tak ingin dekat-dekat dengan para kaum adam untuk menetralisasi rasa agar
tidak mudah jatuh ke lain hati yang tak pasti. Saya hanya menunggu ia yang
benar-benar siap memperjuangkan saya. Bukan hanya dengan kata tapi juga dengan
aksi nyata.” Jelas Ati panjang x lebar kepada bapak. Hal itu seakan tamparan
keras yang ia tujukan kepada Ridwan.
“Tapi ingat!
Mengenal itu juga penting. Bukan asal pilih saja loh ya.” Balas lelaki separuh baya
itu.
“Maksud bapak
mengenal seseorang melalui jalan pacaran?” perjelas gadis itu.
Lelaki itu mengangguk sambil memakan
buah salad di depannya.
“Subhanallah.
Tidak pak. Selamanya saya tidak mau menggunakan cara yang namanya pacaran itu.”
Tegas Ati
“Hush…
jangan ngomong seperti itu. Pacaran itu penting untuk mengenal seseorang. Asal ya
tau batasannya, jangan sampek kebablas. Biasa aja.” Bantah lelaki itu.
"Perkenalan
tidak harus dengan cara seperti itu. Islam tidak mengajarkan hal itu. Masih ada
cara lain yang lebih baik dari itu, taaruh misalnya. Ini masalah prinsip yang sudah
lama saya pegang sejak tau bagaimana hukumnya dalam Islam. Saya yakin aja pak.
Kuncinya percaya dan yakin sama Allah. Perempuan baik akan dijemput dengan cara
yang baik. Dan laki-laki baik akan menjemput perempuannya dengan cara yang baik.
Saya hanya ingin menjadi salah satu dari perempuan baik itu dan saya juga ingin
suami saya termasuk salah satu dari lelaki baik itu. Kita tidak bisa memilih
akan dicintai oleh siapa. Tapi kita bisa memilih ingin dijemput dengan cara
yang bagaimana, cara yang Allah ridhoi kah atau yang Allah murkai? " Tegas
gadis itu dengan sorot mata yang berbinar-binar.
“Baiklah
kalau maumu seperti itu. Berarti bapak sudah mendapat kepastian ya kalau kamu sudah
menolak Dimas?” tanya bapak ingin memastikan jawaban Ati.
“Bukan
karena saya tidak suka pada Dimas pak. Saya hanya merasa kalau saya dan Dimas memang
tidak memiliki visi misi yang sama. Saya tidak menemukan kecocokan saat bersamanya.
Sampaikan permintaan maaf Ati padanya pak. Ati hanya ingin berteman baik
dengannya, tidak lebih dari itu.” Pesan Ati kepada bapak Ridwan.
“Baiklah
nak.” Kata lelaki itu singkat.
“Kok…….???”
potong Ridwan tak melanjutkan kalimatnya.
“Kok apa
mas? Kebiasaan kalau ngomong pasti setengah-setengah.” tanya Ati penasaran sekaligus
jengkel dengan tingkah Ridwan yang selalu seperti itu.
“Kok jadi
ingat kata-kata Kahlil Gibran, ‘Jangan kau kira cinta datang dari keakraban
yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa. Dan jika
itu tidak ada, cinta tidak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun, bahkan
milenia’. Kahlil Gibran said like that. Begitulah katanya pak. Saya setuju
dengan Ati kali ini.” Papar Ridwan, memperjelas kata yang terpotong tadi.
“Hahahahahhaha
bisa aja kau wan… wan… tumben keluar tuh sastranya.” Ejek Bapak sambil tertawa mencairkan
suasana.
Ati hanya
bisa tersenyum. Seolah Ridwan tahu tentang isi hatinya dengan mendukung keputusan
yang dia ambil. Saat itu ia memang sengaja memberitau tentang prinsipnya, agar
ia selalu mengingat apa yang dikatakannya. Jika suatu saat ia memiliki niatan
untuk melanggar, setidaknya ia akan merasa malu untuk menjilat ludahnya
sendiri. Untuk jaga-jaga saja, tidak hanya malu pada manusia tapi juga merasa malu
pada Tuhannya. Menurut Ati pacaran tetap saja pacaran walau orang-orang
mengatakan pacaran gak ngapa-ngapain. Walau pacaran gak mengikat. Walau pacaran
gak ngurusin kehidupan pasangannya masing-masing.
(Lalu, kalau
begitu mengapa kita harus pacaran?) Menurutnya, justru dengan ada kata
embel-embel seperti itulah (sebut saja: pacaran). Maka secara tak langsung
mereka itu mengikat dan memberitahu pada dunia bahwa ‘Aku milikmu, kamu milikku’
agar orang lain enggan untuk mendekati karena sudah termiliki orang lain. Sejak
dulu Ati memang anti sekali dengan yang namanya pacaran. Walaupun masih banyak
teman-teman terdekatnya yang memilih jalan itu, namun ia tak bisa membencinya. Daripada
mengutuk kegelapan, lebih baik ia menyalakan lilin. Kenyataannya ia membenci apa yang mereka perbuat,
tidak pada individunya. Tak terkecuali juga pada Ridwan, orang yang dia sukai.
“Oh
iya pak. Ada yang ingin saya sampaikan sebenarnya ke bapak sama mas. Saya besok
akan berangkat ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi saya S2. Alhamdulillah
saya mendapatkan rezeki melalui jalur beasiswa. Jadi tidak akan menyusahkan Ibu
di sini. Saya ke sini mau pamitan sekaligus mau meminta tolong supaya mas dan
bapak membantu menjaga ibu di sini. Kalau misal terjadi sesuatu, saya minta
tolong segera hubungi saya ya pak.” Ucap Ati dengan senyuman manisnya namun tak
juga dapat menutupi raut wajah kesedihannya.
“MasyaAllah.
Alhamdulillah Ati, bapak turut seneng ngedengarnya.” Kata bapak seolah turut merasakan
kebahagiaan yang Ati rasakan.
“Apa?
Kamu mau ke Yogya? Kenapa kamu baru ngasi tau aku?” balas Ridwan terkejut.
“Bagaimana
bisa aku memberitahumu? Sementara kita sejak tadi bertengkar dengan mengedepankan
ego masing-masing.” Jawab Ati sinis.
“Maaf.”
Ucap Ridwan datar.
“Ah
biasa aja mas. Yasudahlah. Gak apa-apa. Kan yang penting kita tetap baikan
hehehe…” balas Ati sambil menggoda Ridwan, berusaha mencairkan suasana.
Keesokan harinya
Ati pun berangkat ke Yogya. Awalnya ia memilih tinggal di rumah dan bekerja saja.
Supaya bisa menabung dan juga menjaga Ibu di rumah. Tapi lagi-lagi ibu tidak
ingin menghentikan langkah kakinya untuk menggapai mimpi, khususnya dalam hal
menuntut ilmu demi meraih cita-citanya yang mulia. Terlebih lagi ketika ia tahu
bahwa Ridwan sudah termiliki. Semakin pupus harapannya sejak ia tau bahwa
cintanya bertepuk sebelah tangan. Rasa sakit, cemburu, kecewa, semuanya hadir
saat itu juga.
Ia berharap
jarak dapat mambantu dirinya untuk melupakan Ridwan. Memusnahkan segala
kenangan yang telah ada. Kini ia menyerahkan segala keputusannya kepada Sang Maha
Pemilik Hati, karena Dia yang menggenggam hati setiap hambanya. Karena kini
tangannya tak berani bahkan tak akan mampu memeluk sosok lelaki yang dicintaiya
itu. Ia hanya berani memeluk Ridwan dengan doa-doa yang ia panjatkan. Berharap tangan
Tuhan memeluknya erat sebagai perantara tangan dirinya yang tak sampai.
………………………………………………………………………………………………………
Hari demi
hari berlalu Ridwan lalui tanpa ada tawa ceria dan omelan yang ia dengar dari
Ati. Ia kesepian, ia benar-benar merasakan kehilangan setelah ditinggalkan. Memang
benar, sesuatu akan terasa berharga ketika ia telah tiada. Ia selalu berusaha
mengalihkan pikirannya pada hal lain, namun lagi-lagi wajah Ati yang muncul. Ia
benar-benar merindukan kehadiran sosok perempuan teduh itu. Perempuan tangkas
dan berkepala batu itu tak bisa dihilangkan dari pikirannya. Semakin berusaha
dihilangkan, semakin memenuhi pikirannya saja. Saat itu ia teringat tentang
buku bersampul merah yang tak sengaja Ati tinggalkan di rumahnya dan ia
sembunyikan di laci kamarnya.
Lalu untuk
mengobati kerinduannya pada Ati, ia baca tulisan-tulisan pada buku merah itu. Perlahan
Ridwan membuka setiap halaman catatannya. Kisah-kisah dalam setiap coretan pena
itu terasa tak asing baginya. Ia mencoba menerka-nerka dan bertanya-tanya, apakah
tulisan itu membicarakan tentang dirinya? Tapi lagi-lagi ia mengelak dan melanjutkan
membaca. Hingga terhenti pada suatu halaman yang membuatnya yakin bahwa setiap
coretan pena itu seakan tak henti membicarakan tentang dirinya.
Pintu kenang itu tertutup rapat.
Tepat di depan sorot mataku.
Kau membukakan pintu itu kepada perempuan,
selain aku.
Aku kah yang terlambat datang?
Atau pintu kenang itu tercipta memang bukan
untukku.
Lalu hujan turun, tepat di atas wajah merah padam
ini.
Berusaha mendinginkan hati yang sedang kalut.
Kemudian hujan menyamarkan air mata yang keluar
dari kelopak mata ini.
Ia mengajakku pergi sekaligus menghapus jejak
langkahku.
Agar dirimu tak tau bahwa aku pernah hadir
untuk mengetuk pintu itu.
Begitulah Tuhan menyadarkan.
Untuk suatu waktu pertemuan di antara kita.
Aku harap tangan Tuhan yang mengetukkan pintu
itu untukku.
Karena raga ini, tak lagi mampu meraihmu.
……………………………………………………………………………………………………………….
(Dua tahun berlalu.)
Ati pun kembali
pulang ke rumahnya. Namun sebelum masuk rumah. Ia mendapatkan notifikasi, pesan
dari lelaki yang tak asing lagi baginya.
Ridwan : “Aku
ingin kau mengetuk pintuku lagi? Pintu kenang yang telah lama tertutup rapat.”
Ati : “Untuk apa aku mengetuk pintu itu
lagi? Jika di balik pintu telah ada tamu lain yang telah kau persilakan masuk
lebih dulu dan padanya telah kau perlihatkan sebuah kenang yang selama ini
terkunci rapat-rapat.”
Ridwan : “Aku mohon buka pintu itu. Kali ini saja.”
(Ati sudah paham bahwa yang dimaksud pintu itu
adalah pintu rumah Ridwan. Ati buka pintu itu dan berjalan masuk)
Ridwan : “Apa kau melihat gelas di depanmu? Ambillah
gelas itu, lalu kau tuangkan ke mangkok kecil itu.”
Ati : “Untuk apa? Bukankah sebaiknya air
itu diminum. Bukan dibuang-buang.”
Ridwan : “Hehhh kau tak berubah ya ternyata selama dua
tahun ini. Tetap saja keras kepala. Aku tidak menyuruhmu pun untuk membuangnya.
Aku hanya memintamu untuk menuangkannya kan?”
Ati : “Baiklah.”
(Ati pun
menuangkan air dari gelas itu ke dalam mangkok perlahan. Lalu di tetesan air terakhir
Ati melihat cincin emas putih ikut mengalir dari dalam gelas itu)
“Akhirnya
pintu kenang itu sudah benar-benar terbuka.” ucap Ridwan yang tiba-tiba muncul
di hadapan Ati.
“Apa maksud
mas?” tanya Ati dengan raut wajah yang bingung.
“Aku
memilihmu.” Tegas Ridwan.
“Aku tidak
tau apakah aku harus menangis karena terlalu bahagia atau karena luka yang
terbuka kembali. Bagaimana dengan perempuanmu? Pacar mas yang selama ini?” tanya Ati tak sabar ingin tau apa yang terjadi
selama dia pergi.
“Saat kamu pergi
meninggalkanku. Akupun mengakhiri hubunganku dengannya. Hubungan salah yang
selama ini aku jalani dan diikuti dengan cara yang salah pula. Aku tak bisa berhenti
memikirkanmu. Yang ku tau, walau aku bersamanya tetap saja hatiku memilihmu. Sekeras
apapun aku mencoba melupakan. Aku selalu mengingat omelanmu, tawamu, amarahmu,
dan nasihatmu tentang hubungan yang salah ini. Aku selalu mengingat semuanya Ati.”
Papar Ridwan kepada Ati.
“Mas apakah
aku yang menyebabkan kalian berpisah? Apa itu semua karena ku?” balas Ati
karena merasa bersalah menyakiti perasaan perempuan lainnya yaitu pacar Ridwan.
“Ya salah
satunya adalah karenamu. Tapi bukan karena aku mencintaimu. Bukan karena kamu
yang merusak hubunganku dengannya. Tapi karena kesucian dan ketulusan cintamu
padaku, yang mampu mengetuk pintu hati ini agar kembali ke jalan yang benar. Allah
menghadirkan kamu untuk memanduku kembali ke jalan-Nya. Maka dari itu aku
memintamu mengetuk pintu itu sekali lagi. Kali ini bukan hanya sekadar singgah.
Tapi untuk menetap sampai jantung tak lagi berdetak. Oke… Rizky Rahmawati maukah kau menjadi pengingat surgaku? Menemani suka
dukaku. Menjadi saksi pertama atas luka dan rasa sakitku bahkan atas kebahagiaan
yang aku raih nantinya? Bersediakah kau Ati?” Tanya Ridwan harap-harap cemas
dengan jawaban Ati. Takut jika selama dua tahun ini perasaan Ati berubah
terhadap dirinya.
Ati tak
bisa berkata-kata lagi. Ati hanya bisa menangis. Kali ini, ia menangis bukan
karena luka tapi karena ia yang terlalu bahagia. Bahagia karena rencana-Nya ternyata
lebih indah. Sangat indah dari yang ia bayangkan. Keyakinan dan tawakkal yang selama
ini tertanam, ternyata membuahkan cinta yang hakiki. Tak hanya cinta dari
makhluknya namun juga cinta dari Sang Maha Pemilik Makhluknya di dunia.
“Mas
membaca buku merahku ya?” Tanya Ati
“Iya. Maaf.”
Jawab Ridwan dengan wajah polos, takut Ati marah padanya.
“Aku harus
berterima kasih pada buku merah itu. Melaluinya perasaanku jadi tersampaikan,
hehehehehe. Hemmm btw, Mas aku haus. Boleh ambilkan aku minum?” pintanya.
“Lalu
jawabannya?” tanya Ridwan tak sabar sudah menunggu dari tadi. Penasaran.
“Hmmm rahasia
dong. Kepo ya? Ahahahahaha.” Godanya sambil tertawa dengan wajah mengejek.
-Malang, 2020
Putri
Ambarwati
Mahasiswa Pendidikan
Bahasa Indonesia
Universitas
Muhammadiyah Malang

Komentar
Posting Komentar